phone: +62 813 4833 4566
e-mail: bpk.haurgading@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Tanaman Pangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 25, 2014

Cara Tanam Padi Jajar Legowo Di Lahan Sawah

Cara Tanam Jajar Legowo 2:1

Cara Tanam Jajar Legowo 4:1

Tanam jajar legowo merupakan salah satu komponen PTT padi yang  dapat meningkatkan produksi serta memberikan kemudahan dalam aplikasi pupuk dan pengendalian organisme penggangu tanaman. Jajar legowo merupakan cara tanam dengan beberapa barisan tanaman kemudian diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir ½ kali jarak tanaman pada baris tengah.
 
Ada beberapa tipe cara tanam jajar legowo yang umum dilakukan yaitu ; tipe legowo 2:1;  3:1;  4:1;  5:1;  6:1 dan tipe lainnya. Berdasarkan hasil  jajar legowo terbaik dalam memberikan hasil gabah tinggi adalah tipe 2:1, dapat meningkatkan produksi padi sebesar 12-22%.  Disamping itu sistem Legowo yang memberikan ruang yang luas (lorong) sangat cocok dikombinasikan dengan pemeliharaan ikan (mina padi Legowo).
 
Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah pemberian kondisi pada setiap barisan tanam padi untuk mengalami pengaruh sebagai tanaman barisan pinggir. Umumnya tanaman pinggir menunjukkan hasil lebih tinggi daripada tanaman di bagian dalam barisan. Tanaman pinggir juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik karena kurangnya persaingan tanaman antar barisan.

Manfaat  tanam jajar legowo :

- Populasi tanaman padi meningkat sekitar 24% daripada tanaman tegel.
- Meningkatkan produksi 12 – 22 %.
- Memperbaiki kualitas gabah dengan semakin banyaknya tanaman pinggir.
- Mengurangi tingkat serangan hama dan penyakit.
- Memudahkan perawatan; penyiangan, pemupukan dan penyemprotan pestisida/fungisida.

Teknik Penerapan

a. Pembuatan baris tanam
Lahan sawah dalam keadaan macak-macak, melumpur dan rata. Lakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan jelas dengan cara menarik caplak (alat garis tanam), dibantu dengan tali yang dibentang dari ujung ke ujung lahan. Arah baris tanam sebaiknya sesuai dengan arah aliran air  dan  matahari terbit. Jika tanam tegel (20 x 20 cm) populasinya 250.000 rumpun per ha maka dengan  jajar Legowo 2:1 (40 x 20 x 10 cm)  populasi tanam meningkat jadi 333.000 rumpun.

b. Tanam
Bibit padi umur kurang dari 21 hari sebanyak 1-2 bibit ditanam pada pola yang terbentuk, dengan cara maju atau mundur sesuai kebiasaan regu tanam.
- Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
- Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.  Pada daerah yang serangan penyakit (blas/ hawar daun) cukup tinggi, tidak disarankan jajar legowo 4:1.

Teknik Pemeliharaan Tanaman

a. Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada alur yang berjarak 20 cm dan posisi yang memupuk pada tempat yang berjarak 40 cm. Dengan cara ini hanya 40 % dari lahan yang diberi pupuk dan pupuk terkosentrasi pada alur  20 cm. jarak  pupuk lebih dekat dengan perakaran sehingga hara yang diberikan dapat dimanfaatkan tanaman secara maksimal.

b. Penyiangan
Penyiangan sebaiknya dilakukan dengan landak/ gasrok cukup satu arah yaitu searah dalam barisan dan tidak perlu dipotong seperti pada cara tanam bujur sangkar (2 arah). Jarak tanam dalam barisan 10 cm tidak perlu dilakukan penyiangan karena gulma akan kalah berkompetisi dengan pertumbuhaan tanaman padi. Dengan cara tanam ini, biaya penyiangan dapat di tekan sampai 50 %.

c. Pengendalian Hama dan Penyakit
Adanya lorong-lorong yang berjarak 40 cm sinar matahari dan sirkulasi udara dapat berjalan optimal dan kelembaban dapat ditekan sehingga perkembangan hama/penyakit dapat diminimalisir. Disamping itu, kegiatan pemamtauan dan pelaksanaan pengendalian penyakit dapat lebih mudah dilaksanakan.

d. Panen
Panen dilakukan apabila padi telah masak  sempurna/kuning tua dan merata.  Panen dapat menggunakan sabit, mower atau alat panen lainnya.


SUMBER: INFOTEKTAN BPTP KALIMANTAN SELATAN Nomor: 01/KH-KN-RDN/TP/2012

Sabtu, Mei 24, 2014

Rekomendasi Teknologi PTT Padi Di Kabupaten Hulu Sungai Utara


Berikut rekomendasi teknologi padi per bulan Maret 2014

Varietas
Ciherang, Cibogo, Mekongga, Inpara 3, inpari 13, 17
benih bermutu & berlabel

Pupuk
Pemberian bo/pengembalian sisa tanaman/ pupuk organik pabrikan
Berdasarkan PUTR atau 200-100-100

Sistem Tanam
Jajar legowo 2:1
Umur bibit <20 hr, 1-3 btg/rpn
Umur bibit <25 hr, 3-5 btg/rpn (bila endemik keong mas)

Keterangan lainnya
Lahan lebak
Bila tidak ada galangan, sebaiknya menggunakan pupuk cair

Sumber: Litbang Kalsel Deptan

Jumat, Mei 23, 2014

TANAMAN OBAT-OBATAN (BAGIAN II)


11. Kencur (Kaemferia galanga Linn.)

 Kencur merupakan tanaman kecil yang tumbuh merapat dengan tanah dan tidak terbatas.   Rimpang bercabang-cabang dan berdesak-desakan serta berwarna coklat.  Daun berbentuk jorong, pangkal daun berbentuk jantung dan berujung lancip, sedangkan bunga berwarna putih (dr. Lestari Handayani, M. Med (PH) dan Dra. Herti Maryati, 2002).
Bagian yang digunakan pada tanaman ini adalah rimpang dan daun.  Kencur berkhasiat menyembuhkan gatal pada tenggorokan, gangguan perut kembung, mual, masuk angin, pegal-pegal, lelah dan radang anak telinga (Adi Permadi, 2008).
Selain itu, rimpang kencur banyak dimanfaatkan untuk ramuan pelangsing, penyegar, obat sakit kepala dan penghangat badan (dr. Lestari Handayani, M. Med (PH) dan Dra. Herti Maryati, 2002).

12. Kumis Kucing (Orthosiphon spicatus B.B.S.)

Kumis kucing tumbuh liar di sepanjang anak sungai atau selokan, atau ditanam di pekarangan sebagai tumbuhan obat.  Bagian yang digunakan adalah daun, batang, akar dan bunga.  Penggunaannya dalam bentuk segar maupun yang telah dikeringkan.  Tanaman ini dapat   menyembuhkan    penyakit  -   penyakit
seperti infeksi kandung kemih, infeksi ginjal akut dan kronis, kencing batu, kencing manis, batu kantong empedu, encok, asam urat, bengkak kandung kemih, infeksi saluran kencing atau kencing sedikit-sedikit, dan keputihan (Adi Permadi, 2008).
Cara pemakaiannya rebus 30-60 g herba kering atau 90-120 g herba segar, lalu minum air rebusannya.  Herba kumis kucing yang kering ataupun yang segar juga bisa diseduh, lalu diminum seperti teh (dr. Setiawan Dalimartha, 2000).

13. Kunyit (Curcuma longa Linn.)


Tanaman ini bersifat pahit (kecuali daging buah bersifat manis).  Bagian yang digunakan adalah rimpang dalam keadaan segar atau kering.  Rimpang dikonsumsi dengan cara direbus, lalu diminum airnya atau serbuk halus simplisia dimasukkan dalam kapsul lalu diminum sesuai dosis (Adi Permadi, 2008).
Penyakit yang dapat diobati oleh tanaman ini yaitu demam, terlambat haid, eksem, keputihan, radang rahim, radang usus buntu, hepatitis, sakit kuning, gatal akibat cacar air, radang gusi, radang amandel, dan tekanan darah tinggi (Adi Permadi, 2008).
Selain itu, kunyit sangat baik untuk mengobati panas, perut kembung, nyeri, mual, tidak nafsu makan, serta mencegah diare (dr. Lestari Handayani, M. Med (PH) dan Dra. Herti Maryani, 2002).

14. Lengkuas (Alpinia galanga (I.) Willd.)
 
Rimpang merupakan bagian lengkuas yang biasanya digunakan sebagai obat.  Bisa digunakan dalam bentuk segar atau kering.  Lengkuas yang lebih dikenal sebagai bumbu dapur biaa digunakan untuk pengobatan dalam dan   luar.  Untuk    pengobatan    dari dalam, tanaman direbus, lalu diminum airnya.  Bisa juga meminum serbuk herba yang dimasukkan dalam kapsul (Adi Permadi, 2008).
Untuk pengobatan luar, setelah diproses, tanaman dapat ditempel langsung atau digosokkan pada bagian yang sakit.  Lengkuas berkhasiat mengobati panu, kadas, kurap eksim, bercak kulit, demam, radang telinga, bronchitis, masuk angin, dan diare (Adi Permadi, 2008).

15. Lidah Buaya (Aloe vera L.)

Daun, bunga, dan akar lidah buaya dalam keadaan segar  dapat digunakan untuk obat.  Tanaman ini dapat menyembuhkan kencing manis, batuk rejan, cacingan, susah buang air kecil, luka terpukul, luka dalam (muntah darah), kencing darah, wasir, dan sembelit (Adi Permadi, 2008).
Lidah buaya berfungsi sebagai antiradang, pencahar dan parasitide. Jika dikombinasikan dengan obat lain, lidah buaya jangan direbus, tetapi harus dibuat pil atau bubuk (Adi Permadi, 2008).



16. Lidah Mertua (Sanseviera trifasciata Prain.)


Lidah mertua merupakan salah satu tanaman hias, biasanya ditanam di pekarangan rumah atau dalam pot. Perbanyakan tanaman ini menggunakan anakan.  Lidah mertua mengandung abamagenin (Adi Permadi, 2008).
Bagian yang digunakan atau dimanfaatkan adalah daun.  Daun lidah mertua berkhasiat menyembuhkan borok, bisul, digigit ular berbisa, dan menyuburkan rambut (Adi Permadi, 2008).




17. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (scheff.) Boerl)
 
Mahkota dewa dikenal sebagai salah satu tanaman obat di Indonesia.  Tumbuhan ini seringkali ditanam sebagai tanaman peneduh.  Ukurannya tidak terlalu besar dengan tinggi mencapai 3 meter, mempunyai buah berwarna merah menyala yang tumbuh dari batang utama hingga ke ranting (Anonim, 2008).
Bagian yang dimanfaatkan pada tanaman ini adalah daging buah dan daunnya. Tanaman obat ini banyak digunakan untuk mengobati kanker, tumor, eksem, diabetes melitus, hipertensi, dan hepatitis (Adi Permadi, 2008).
Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang.  Cuma dengan menyeduh teh racik terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah atau daunnya, bahan obat alami ini pun siap dipakai (Anonim, 2008). 
Agar lebih aman dikonsumsi, sebaiknya buah mahkota dewa digunakan dalam bentuk simplisia (dikeringkan terlebih dahulu).  Daun mahkota dewa bisa digunakan untuk obat luar, tetapi bijinya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi karena beracun (Adi Permadi, 2008).

18. Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

Bagian yang dapat dimanfaatkan pada tanaman ini adalah buah, daun, kulit batang, dan kulit akar dalam keadaan segar atau kering.  Dimana untuk pengobatan dari dalam, tanaman direbus,   lalu    diminum    airnya.    Bisa juga meminum serbuk herba yang di  masukkan  dalam   kapsul.  Sedangkan untuk pengobatan luar, setelah diproses, tanaman dapat ditempel langsung atau digosokkan pada bagian yang sakit (Adi Permadi, 2008).
Tanaman ini dapat menyembuhkan tekanan darah tinggi, cacar air, beri-beri, kegemukan, radang usus, batuk karena masuk angin, radang amandel, pembengkakan limpa, nyeri limpa, ludah berdarah, lever, sariawan, luka memar, eksem, kencing manis, disentri, dan sembelit.  Selain itu juga berfungsi membersihkan darah, melembutkan kulit kaki yang kasar, menghilangkan ketombe, dan melancarkan kencing (Adi Permadi, 2008).

19. Meniran (Phyllanthus urinaria Linn)
 
Seluruh bagian meniran dapat dimanfaatkan sebagai obat.  Tanaman ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit, diantaranya susah kencing disertai sakit perut atau pinggang, radang ginjal dengan protein dalam  air seni,   nyeri   buang   air kecil,   batu ginjal, disentri, rabun senja, bisul di kelopak mata, rematik, digigit anjing gila/rabies, dan sakit ayan/epilepsi (Adi Permadi, 2008).
Selain itu juga dapat menyembuhkan penyakit diare, radang usus, radang mata merah, sakit kuning, kencing nanah, sariawan, serta menambah nafsu makan pada anak yang berat badannya kurang (dr. Setiawan Dalimartha, 2000).
Untuk pengobatan dalam, tanaman direbus lalu diminum airnya. Bisa juga meminum serbuk herba yang dimasukkan dalam kapsul (Adi Permadi, 2008). 
Untuk pengobatan luar, cuci herba segar, lalu giling sampai halus.  Bubuhkan bahan tersebut ke tempat yang sakit (seperti borok), kemudian dibalut.  Cara lain, rebus herba segar dan air rebusannya digunakan untuk mengobati bisul di kelopak mata (dr. Setiawan Dalimartha, 2000).

20. Mimba/Nimba (Azadirachta indica Juss.)

Tanaman ini menghendaki tempat yang cukup matahari.  Perbanyakan pada tanaman mimba/nimba menggunakan anakan. Tanaman ini bersifat pahit (kecuali daging buah bersifat manis), netral, antidiabetes, antidiare, antipiretik (penurun panas), antibilious, dan mengaktifkan kelenjar-kelenjar.  Efek farmakologis diperoleh dari penggunaan daun, biji, kulit kayu, dan kayu (Adi Permadi, 2008). 
Daun pada tanaman ini dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit dalam, dimana daun mimba segar atau kering direbus, lalu diminum airnya.  Untuk menyembuhkan penyakit luar, daun segar atau kering direbus., lalu digunakan untuk kompres atau daun segar langsung ditempelkan pada bagian yang sakit.  Mimba dapat menyembuhkan penyakit kencing manis, disentri, diare, malaria, masuk angina, eksem, ketombe, hepatitis, gagal lever, kanker lever, dan jerawat (Adi Permadi, 2008).

TANAMAN OBAT-OBATAN (BAGIAN III)

Sumber : MENGENAL TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI SEKITAR KITA BESERTA CARA PENGOLAHANNYA (Oleh NETTY HASTUTI, SP)

DAFTAR PUSTAKA
Adi Permadi,  Membuat Kebun Tanaman Obat (Jakarta : Pustaka Bunda, 2008)
Anonim,  Ciplukan-Sentra Informasi IPTEK  (www.iptek.net.id/view.php, 2007)
Anonim, Mahkota Dewa dan Khasiatnya (deatta.wordpress.com/2008/04/11/mahkota dewa)
dr. Lestari Handayani, M. Med (PH) dan Dra. Herti Maryani,  Mengatasi Penyakit Pada Anak Dengan Ramuan Tradisional (Jakarta : Agromedia Pustaka, 2002)
dr. Setiawan Dalimartha, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2 (Jakarta : Trubus Agriwidya, 2000)
Drs. H. Arief Hariana,  Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 3 (Jakarta : Penebar Swadaya, 2006)
Fauziah Muhlisah,  Tanaman Obat Keluarga (Jakarta :  Penebar Swadaya, 1999)
Ir. Didah Nur Faridah, M. Si,  Kualitas Rosela Bisa Diukur Dari Warna Merah Seduhannya  (thibbunnabawi.wordpress.com/2008/04/10)
Sisca Dharmayanti,  Berbagai Khasiat Daun Kemangi  (bintanglaut. Wordpress.com/2007/09/28)

Rabu, April 30, 2014

CARA MUDAH UNTUK MENGETAHUI pH TANAH

Sebelum bercocok tanam agar tanaman kita menghasilkan produksi yang maksimal maka hal penting yang perlu kita ketahui adalah kecocokan tanaman yang akan kita budidayakan dengan kondisi tanah, salah satunya yaitu mengetahui keadaan pH tanah.
Unuk mengetahui pH tanah ada beberapa cara yang biasa digunakan yaitu dengan alat kertas lakmos dan pH meter, namun dikalangan petani tradisional hal itu sangat lah sulit untuk mendapatkan alat tersebut, namun kedua alat tersebut tergolong akurat untuk mengetahui keadaan pH tanah.
Berdasarkan kendala yang ada maka kami mencoba untuk berbagi bagaimana cara mudah untuk mengetahui keadaan pH tanah.

Langkah pertama siapkan 1 rimpang kunyit, kemudian kunyit tersebut dipatahkan atau dipotong menjadi dua, lalu benamkan kunyit tersebut kedalam tanah yang akan kita ukur pHnya, setelah 30-40 menit kunyit tadi kita ambil dan lihat hasilnya.
Lihat potongan kunyit yang berwarna kuning tadinya, apabila warna potongan kunyit tidak berubah (tetap seperti semula) maka keadaan pH tanah Netral, dan jika warna potongan kunyit berubah menjadi biru maka tanah tersebut Basa, namun bila warna potongan kunyit memudar maka tanah tersebut Asam.

Rabu, Desember 19, 2012

PENGEMBANGAN BENIH PADI UNGGUL BARU

Benih unggul baru menjadi hal yang sangat penting dalam berusahatani. Ketersediaan benih yang memenuhi kriteria enam tepat (varitas, waktu, tempat, mutu, jumlah dan harga) belum dapat dipenuhi melalui sistem perbenihan yang ada. 



BENIH PADI UNGGUL BARU
Cimelati: umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 110 cm, anakan produktif banyak, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kurang bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 19%, berat 1000 biji 27 gram, hasil 7 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2 dan 3, peka terhadap wereng coklat dibandingkan dengan IR 64, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan IV peka terhadap strain VIII, sesuai untuk sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian < 500 m di atas permukaan laut (dpl).

Cisantana: umur tanaman 118 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 110 cm, anakan produktif 15-20 batang, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan tahan, kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 23%, berat 1000 biji 23,9 gram, hasil 5-7,8 ton/ha gabah kering panen, cukup tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3, cukup tahan terhadap hawar daun bakteri (HDB) III dan peka terhadap HDB IV, sesuai untuk sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan baik ditanam pada lahan irigasi kurang subur.

Sintanur:  umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 120 cm, anakan produktif banyak, warna batang hijau,  posisi daun tegak sampai miring, daun bendera tegak, bentuk gabah medium atau sedang, warna gabah kurang bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 18%, berat 1000 biji 27,4 gram, hasil 6 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 2 peka terhadap wereng coklat biotipe 3, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, peka terhadap strain IV dan VIII, sesuai untuk sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian <500 m di atas permukaan laut (dpl).

Konawe: umur tanaman 110-120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 100-114 cm, anakan produktif 15-18 batang, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah panjang ramping, warna gabah kurang bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 23%, berat 1000 biji 27-28 gram, hasil 5-8 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan lebih tahan terhadap biotipe 3 dibandingkan dengan IR 64, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan lebih tahan terhadap strain IV dibandingkan dengan IR64, dianjurkan ditanam pada lahan sawah pada ketinggian < 550 m di atas permukaan laut (dpl).  

Angke: umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 90 cm, anakan produktif banyak, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kurang bersih, kerontokan tahan, kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 23%, berat 1000 biji 27 gram, hasil 6,8 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2 dan SU, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, IV dan VIII dengan gen ketahanan resesif Xa5, baik ditanam di lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl).  

Widas: nomor pedigiri S969b-265-1-4-1, asal persilangan sentani/singkarak, golongan cere, umur tanaman 115-125 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 90-117 cm, anakan produktif 17-20 batang, warna kaki hijau, warna batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, warna daun hijau, muka daun agak kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan sedang, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 25-26 g, kadar amilosa 23%, hasil 5-7 t/ha, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2 dan 3, tahan penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain III dan IV, cocok di tanam pada musim hujan dan musim kemarau di lokasi di bawah 600 m di atas permukaan laut (dpl).

Ketonggo: nomor pedigiri B8583E-Mr-87-1-1b, asal persilangan B4183E-Kp-1/IR-28224/B4183, golongan cere, umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 125 cm, anakan produktif 10-19 batang, warna kaki hijau, warna batang hijau, warna daun hijau, muka daun kasar, daun bendera tegak miring, bentuk gabah bulat besar, warna gabah kuning bersih, kerontokan tahan, kerebahan tahan, tekstur nasi ketan, bobot 1000 butir 29-30 g, kadar amilosa 0,8%, hasil 5-6 t/ha, tahan wereng coklat biotipe 2 dan cukup tahan terhadap biotipe 3, cukup tahan hawar daun bakteri strain III, baik ditanam di dataran rendah sampai dataran sedang.

Ciherang: nomor pedigiri S3383-Id-Pn-41-31, asal persilangan IR18349-53-1-3-1-3/IR19661-131-3-1-3///IR64////IR64, golongan cere, umur tanaman 116-125 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 107-115 cm, anakan produktif 14-17 batang, warna kaki hijau, warna batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, warna daun hijau, muka daun kasar pada sebelah bawah, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah panjang ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan sedang, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 27-28 g, kadar amilosa 23%, hasil 5-7 t/ha, tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3, tahan penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain III dan IV, cocok di tanam pada musim hujan dan musim kemarau dengan ketinggian di bawah 500 m di atas permukaan laut (dpl).

Tukad Patanu: nomor pedigiri IR69726-116-1-3, asal persilangan IR61009-37-2-1-1///IR1561-228-3-3/Utri Merah//, golongan cere, umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 118 cm, anakan produktif 17-20 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning jerami, kerontokan mudah rontok, kerebahan toleran, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 23,9 g, kadar amilosa 23,3%, hasil 4-7 t/ha, agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteri strain VIII, tahan terhadap penyakit, baik ditanam di daerah endemik penyakit tungro, khususnya daerah Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Tukad Balian: nomor pedigiri IR59682-132-1-1-1-2, asal persilangan IR486113-54-9-9-1/IR28239-94-2-3-6-2, golongan cere, umur tanaman 110 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 95 cm, anakan produktif 19 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning jerami, kerontokan mudah rontok, kerebahan toleran, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 24,3 g, kadar amilosa 21,2%, potensi hasil 4-7 t/ha, agak tahan wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteeri strain VIII, dan tahan terhadap tungro, baik ditanam di daerah endemik penyakit tungro, khususnya daerah Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Tukad Unda: nomor pedigiri IR68305-18-1, asal persilangan IR64/Balimun Putih, golongan cere, umur tanaman 110 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 104 cm, anakan produktif 20 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, warna daun hijau, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, bulu gabah pendek, warna gabah kuning jerami, kerontokan mudah rontok, kerebahan toleran, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 23,9 g, kadar amilosa 24,9%, potensi hasil 4-7 t/ha, agak tahan wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteeri strain VIII, dan tahan terhadap tungro, baik ditanam di daerah endemik penyakit tungro, khususnya daerah Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Kalimas: nomor pedigiri B59552-21-3-2-2-(HD176), asal persilangan PSBRc2 dan IRRI39292-142-3-3-3 introduksi dari IRRI, golongan cere, umur tanaman 120-130 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 98-116 cm, anakan produktif 16-23 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang., kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 26,49 g, kadar amilosa sedang, hasil 8,97 t/ha (gabah kering panen), tahan terhadap wereng coklat, tahan terhadap tungro, sesuai untuk lahan endemik tungro dan wereng coklat.  

Singkil: nomor seleksi S3254-2g-21-2, asal persilangan IR35432-33-2/IR19661-131-3-1//Ciliwung///IR64, golongan care, umur tanaman 10-115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 95-115 cm, anakan produktif 17-20 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, muka daun kasar pada bagian sebelah bawah daun, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah panjang ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan sedang, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, bobot 1000 butir 26,27 g, kadar amilosa 23%, hasil 4-8 t/ha gabah kering giling, tahan terhadap ereng coklat biotipe 2 dan lebih tahan biotipe 3, dibandingkan dengan IR64, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, dan lebih tanah terhadap strain IV, dibandingkan dengan IR64, ditanam pada lahan sawah pada ketinggian <550 m di atas permukaan laut (dpl).

Sintanur: nomor seleksi B9645e-Mr-89-1, asal persilangan lusi/B7136E-Mr-22-1-5 (Bengawan Solo), golongan cere, umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 120 cm, anakan produktif banyak, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, muka daun kasar, warna daun hijau, posisi daun tegak sampai miring, daun bendera tegak, bentuk gabah meduium atau sedang, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, bobot 1000 butir 27,4 g, kadar amilosa 18%, hasil 6 t/ha (gabah kering panen), tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 2 peka terhadap wereng coklat biotipe 3, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, dan lebih tanah terhadap strain IV, dibandingkan dengan IR64, sesuai untuk sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian < 500 m dpl.

Bondojudo: nomor seleksi IR60819-34-2-1 (HD 174), asal persilangan IR72 (IR48525-100-1-2) introduksi dari IRRI, golongan cere, umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 97,3-116 cm, anakan produktif 15-22 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak pendek (malai kelihatan), bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan mudah, kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi sedang, bobot 1000 butir 21,3 g, kadar amilosa sedang, hasil 8,40 t/ha (gabah kering panen), tahan terhadap wereng coklat, tahan terhadap tungro, sesuai untuk lahan endemik tungro wereng coklat. 

Penggunaan Benih Bermutu


Penggunaan Benih yang Baik, Bersih, dan Sehat


Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi jumlah pemakain benih dan tanam ulang serta memiliki daya kecambah dan tumbuh yang tinggi sehingga pertanaman kelihatan seragam. Pertumbuhan awal yang kekar dapat mengurangi masalah gulma dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama/penyakit. Kombinasi faktor ini dapat memberikan tambahan hasil panen antar 5-20%.

Ciri Benih Bermutu

Benih bermutu adalah benih murni dari suatu varietas, berukuran penuh dan seragam, daya kecambah di atas 80% dengan bibit yang tumbuh kekar, bebas dari biji gulma, penyakit, hama, atau bahan lain. Benih seyogianya diberi label secara tepat. Untuk memperoleh benih bermutu, belilah benih bersertifikat yang murni dan berlabel, atau benih bermutu yang diproduksi petani, atau pilih sendiri dari pertanaman Anda.



Pengeringan dan Penyimpanan Benih Bermutu

Setelah panen, bersihkan benih dan pilih yang berisi penuh dan seragam. Keringkan benih sampai kandungan airnya 12-14%, lalu simpan dalam karung atau kontainer secara kedap udara sampai musim tanam berikutnya (kualitas benih dapat bertahan setahun bila disimpan secara tepat). Benih yang disimpan tanpa kedap udara akan meningkat kadar airnya dan menurun daya tumbuhnya sejalan dengan waktu.

Menguji Mutu Benih


  1. Pilih secara acak contoh benih yang akan ditanam lalu rendam dalam air selama 24 jam.
  2. Letakkan 100 benih di atas kertas kacu lembab. Taruh kertas tadi dalam tempat tertutup. Upayakan kertas tetap lembab.
  3. Setelah 3-5 hari, hitung benih yang berkecambah dan catat persentase perkecambahan.
  4. Benih dinilai bermutu bila mempunyai daya kecambah minimal 80%.
Sepuluh Langkah untuk Memproduksi Benih
  1. Pilih lahan yang subur.
  2. Gunakan benih bermutu yang bersih dan bernas.
  3. Olah tanah secara baik untuk mengendalikan gulma dan memperbaiki pengelolaan air.
  4. Dalam cara tanam pindah, tanam bibit muda (15-20 hari) dari persemaian yang bebas gulma dengan jarak tanam 22,5 x 22,5 cm.
  5. Pakai pupuk N, P, K, S sesuai dengan kebutuhan tanaman.
  6. Jaga agar pertanaman bebas gulma, hama, dan penyakit.
  7. Pada saat anakan maksimum dan pembungaan, sisihkan tanaman yang off-type yang terlihat dari tinggi tanaman, waktu berbunga, dan keragaannya yang berbeda; sisihkan juga tanaman yang terserang hama/penyakit serta malai yang berubah warna.
  8. Lakukan panen pada saat tanaman matang penuh (80-85% gabah berwarna seperti jerami).
  9. Rontok, bersihkan, keringkan, dan beri label benih yang dipanen.
  10. Simpan benih yang diberi label dalam kontainer bersih yang tertutup dalam ruangan yang sejuk, kering, dan bersih.



Benih Unggul Padi Sawah



Mengapa menggunakan benih unggul bermutu dan bersertifikat?
Penggunaan benih yang bermutu menjamin keberhasilan usaha tani.

  • Keturunan benih diketahui, mutu benih terjamin dan kemurnian genetik diketahui.
  • Pertumbuhan benih seragam.
  • Menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak.
  • Ketika ditanam pindah, tumbuh lebih cepat dan tegar.
  • Masak dan panen serempak.
  • Produktivitas tinggi, sehingga meningkatkan pendapatan petani.

Kelas benih yang ditanam penangkar atau produsen benih

  • Penangkar benih harus menanam benih satu kelas lebih tinggi dari kelas benih yang akan diproduksi. Contoh, kalau penangkar benih memproduksi benih sebar, maka benih yang ditanam minimal harus kelas benih pokok.
  • Benih Dasar (BD), ditandai dengan label putih, dimiliki dan diproduksi oleh Balai Benih Induk (BBI), penangkar benih yang mendapat rekomendasi dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), produsen benih swasta atau BUMN.
  • Benih Pokok (BP), ditandai dengan label ungu, dimiliki dan diproduksi oleh Balai Benih Utama (BBU), penangkar benih yang mendapat rekomendasi dari BPSB, produsen benih swasta atau BUMN.
  • Benih Sebar (BR), ditandai dengan label biru, dimiliki dan diproduksi oleh BBU, penangkar benih atau produsen benih swasta atau BUMN.


Kelas benih yang ditanam petani

Petani yang menanam padi untuk tujuan mendapatkan gabah konsumsi (untuk digiling menjadi beras) disarankan untuk menggunakan benih sebar (label biru).

Ciri-ciri benih bermutu tinggi
Mutu benih meliputi mutu genetik, mutu fisik, dan mutu fisiologis.
Ciri–ciri benih bermutu adalah:

  1. Varietasnya asli.
  2. Benih bernas dan seragam.
  3. Bersih (tidak tercampur dengan biji gulma atau biji tanaman lain).
  4. Daya berkecambah dan vigor tinggi, sehingga dapat tumbuh baik jika ditanam di sawah.
  5. Sehat (tidak terinfeksi oleh jamur atau serangan hama).

Benih berlabel
Merupakan benih yang sudah lulus proses sertifikasi yang merupakan salah satu bentuk jaminan mutu benih.
Keuntungan menggunakan benih bermutu tinggi

  1. Benih tumbuh dengan cepat dan serempak.
  2. Bila disemaikan, mampu menghasilkan bibit yang vigorous (tegar) dan sehat.
  3. Ketika ditanam-pindah, bibit dapat tumbuh lebih cepat.
  4. Pertanaman lebih serempak dan populasi tanaman optimum, sehingga mendapatkan hasil yang tinggi.

Pemilahan benih
Benih dengan berat jenis lebih tinggi, mempunyai mutu fisiologis (daya berkecambah dan vigor) yang lebih tinggi, serta pertumbuhan di lapang yang lebih cepat dan seragam.
Cara pemilahan benih
1. Pemilahan benih dengan air

  1. Benih dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air dengan volume dua kali volume benih, kemudian diaduk-aduk sebentar.
  2. Benih yang terapung, yang mempunyai berat jenis rendah, dipisahkan dari benih lainnya.
  3. Benih-benih yang tenggelam yang dapat digunakan untuk pertanaman
  4. Sebelum disemai, benih terlebih dahulu direndam selama 24 jam dan diperam.

2. Pemilahan dengan larutan garam Amonium Sulfat (ZA)

  1. Untuk mendapatkan benih yang lebih bernas dengan berat jenis yang tinggi (BJ 1,11 mg/l), pemilahan dilakukan seperti pada butir 1 (pemilahan dengan air), namun yang digunakan adalah larutan pupuk ZA dengan konsentrasi 225 g ZA/l air.
  2. Benih yang terapung dibuang, sedangkan benih yang digunakan adalah benih yang tenggelam (memiliki berat jenis tinggi).
  3. Setelah pemilahan benih dicuci bersih, direndam, diperam dan siap untuk ditabur atau disemai.


Perlindungan pada pertumbuhan awal bibit terhadap serangan hama penggerek batang

  • Untuk daerah yang sering terserang hama penggerek batang, disarankan untuk melaksanakan perlakuan benih dengan pestisida berbahan aktif fipronil
  • Benih direndam di dalam air selama satu hari, kemudian ditiriskan dan dicampur dengan Regent 50SC (bahan aktif fipronil) dengan dosis 12,5 cc/kg benih sebelum diperam. Perlakuan pestisida ini juga dapat membantu pengendalian keong mas di areal persemaian atau pertanaman awal.


Sabtu, Desember 08, 2012

BUDIDAYA KACANG TANAH


PEMILIHAN VARIETAS
Penggunaa varietas unggul mempunyai potensi hasil yangtinggi, ukuran biji seragam, sehat dan jelas usulnya. Biji kacang tanah yang baru dipanen sangat baik untuk dijadikan benih. Beberapa varietas unggul baru kacang tanah mempunyai karakteristik tertentu, seperti tahan terhadap penyakit layu dan kekeringan atau daya adaptif terhadap PH tinggi.
Pemilihan varietas sebaiknya memperlihatkan kebutuhan pasar.

PERSIAPAN LAHAN

Tanah dibajak 2x sedalam 15 – 20 cm, lalu digaru dan diratakan, dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma dan dibuat bedengan selebar 3-4 meter. Antar bedengan dibuat saluran drainase sedalam 30 cm dan lebar 20 cm yang berfungsi sebagai saluran drainase pada saat becek dan sebagai saluran irigasi pada saat kering.
Jika struktur tanah sudah gembur, maka penyiapan lahan dapat dilakukan dengan penyemprotan herbisida untuk membersihkan gulma kemudian dilakukan pengolahan tanah minimal (minimum tillage) sepanjang barisan/alur yang akan ditanami.

PENANAMAN

Penanaman secara baris tunggal dengan tugal atau alur bajak dengan tanam 35-40 cm x 10-15 cm, satu biji/lubang sehingga populasi sekitar 250.000 tanaman per hektar. Kebutuhan benih antara 90 – 100 biji/ha.
Penanaman juga dapat dilakukan secara baris ganda (50 cm x 30 cm) x 15 cm, satu biji/lubang.

PEMUPUKAN
50 KG Urea/ha atau 100 kg ZA/ha, diberikan bersamaan tanam atau saat tanaman umur antara 7 - 15 hari. Pemupukan paling efisien dilakukan secara larik atau tugal.
Bila kandungan P rendah < 12 ppm P, perlu diberikan 80 kg SP-36/ha pada saat tanam. Bila sudah tinggi > 12 ppm tidak perlu dipupuk P.
Jika kandungan K tersedia dalam tanah kurang dari 0,3 me/100 gr tanah, maka perlu dipupuk dengan KCl sebanyak 33 – 50 kg. pupuk K dapat diberikan bersamaan tanam dengan cara disebar.
Pada tanah dengan kandungan Ca rendah, maka perlu diberi dolomite sebanyak 300-500 kg/ha bersamaan tanam dengan cara disebar atau larikan pada fase pembentukan polong. Pada tanah masam, pemberian dolomite sangat membantu pembentukan dan pengisian polong.
Pada daerah yang endemik klorosis (gejala kuning) karena PH tanahnya tinggi (>7,4) perlu ditambahkan bubuk belerang sebesar 300-400 kg/ha dengan cara mencampur rata dengan tanah dan diberikan pada alur tanaman sebelum tanam. Bila tidak tersedia bubuk belerang, bisa diganti dengan 2,5 – 5 ton/ha pupuk kandang.
Gejala kuning juga dapat diatasi dengan penyemprotan larutan yang mengandung 0,5 – 1 % FeSO4 0,1 % asam sitrat, 3 % ammonium sulfat (ZA), 0,2 % Urea pada umur 30, 45 dan 60 hari untuk mempercepat pemulihan klorosis.

PEMELIHARAAN
1. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Hama utama pada kacang tanah antara lain Wereng kacang tanah (Empoasca fasialin), penggerek daun (Stomopteryx subscevivella), ulat jengkal (Plusia chalcites) dan ulat grayak (Prodenia litura), hama tesebut dapat dikendalikan dengan insektisida endosulfan, klorfirifos, Dursban, Azodrin< Tamaron dan Basudin). Untuk pencegahan, pestisida tersebut dapat diaplikasikan pada umur 25, 35 dan 45 hari.
Penyakit utama kacang tanah antara lain layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), bercak daun (leafspot), penyakit karat (Puccinia arachidis).  Pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas tahan atau menggunakan fungisida benomil, mankozeb, bitertanol 45, Baycor, Delsane MX 200 dan Daconil). Untuk pencegahan, fungisida tersebut dapat diaplilkasikan pada umur 35, 45 dan 60 hari.

2. PENYIANGAN DAN PEMBUMBUNAN
Penyiangan gulma pertama dilakukan sebelum tanaman berbunga dan penyiangan kedua setelah ginofor masuk ke dalam tanah. Penyiangan tidak boleh dilakukan saat pembentukan polong karena dapat menyebabkan kegagalan pembentukan polong.
Pembumbunan dilakukan bersamaan penyiangan.

3. PENGAIRAN
Pengairan diperlukan jika tanam dilakukan pada musim kemarau. Periode kritis tanaman terhadap air adalah periode awal (umur hingga 15 hari), umur 25 hari (awal berbunga), umur 50 hari (pembentukan dan pengisian polong) dan umur 75 hari (pemasakan).
Pengairan dilakukan melalui selokan antar bedengan.

4. PANEN DAN PASCA PANEN
Umur panen tergantung varietas dan musim tanam, tanda –tanda tanaman siap panen antara lain : kulit polong mengeras, berserat, bagian dalam berwarna coklat, jika ditekan polong mudah pecah. Jika biji telah penuh, harus segera dipanen, karena bila terlambat, biji dapat tumbuh di lapang.
Setelah panen polong segera dirontokkan, dikeringkan hingga kadar air 12 % yang ditandai dengan mudah terkelupasnya kulit ari. Penundaan polong basah lebih dari 24 jam menyebabkan polong berlendir, mudah terinfeksi jamur Aspergillus flavus dan terkontaminasi aflatoksin yang menyebabkan kacang menjadi pahit dan beraroma tengik.

Sumber : epetani.deptan.go.id

Jumat, Desember 07, 2012

PENGEMBANGAN BENIH DAN VARIETAS UNGGUL PADI SAWAH



A. Pendahuluan
Varietas unggul memberikan manfaat teknis dan ekonomis yang banyak bagi perkembangan suatu usaha pertanian, diantaranya pertumbuhan tanaman menjadi seragam sehingga panen menjadi serempak, rendemen  lebih tinggi, mutu hasil lebih tinggi dan sesuai  dengan selera konsumen, dan tanaman akan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap gangguan hama dan penyakit dan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sehingga dapat memperkecil penggunaan input seperti pupuk dan pestisida. 
Dalam suatu sistem produksi benih pertanian baik yang ditujukan untuk memenuhi konsumsi sendiri maupun yang berorientasi  komersial diperlukan adanya ketersediaan benih dengan varietas yang berdaya hasil tinggi dan mutu yang baik. Daya hasil yang tinggi serta mutu yang terjamin pada umumnya terdapat pada varietas unggul. Namun manfaat dari suatu varietas akan dirasakan oleh petani atau konsumen apabila benih tersedia dalam jumlah yang cukup dengan harga yang sesuai.  Dalam pertanian modern, benih berperan sebagai  delivery mechanism yang menyalurkan keunggulan teknologi kepada petani dan konsumen lainnya.  Salah satu yang berpengaruh dalam peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan adalah penggunaan benih varietas unggul bermutu yang didukung oleh penerapan teknologi sesuai dengan anjuran. Oleh karena itu, ketersediaan benih bermutu terus diupayakan mengingat manfaat dari penggunaan benih tersebut.

B. Pengertian dan Karakteristik Benih dan Varietas Unggul Padi Sawah
Benih dan varietas unggul padi sawah merupakan  galur hasil pemuliaan yang mempunyai salah satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit dan toleran terhadap cekaman lingkungan, mutu produk, dan atau sifat-sifat lainnya. Varietas unggul  salah komponen teknologi yang penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usaha tani padi. Berbagai varietas unggul telah tersedia dan dapat dipilih sesuai dengan kondisi wilayah, preferensi petani, dan keinginan pasar.