phone: +62 813 4833 4566
e-mail: bpk.haurgading@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Hama Penyakit Tanaman Padi. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 02, 2014

Cara Membuat Pestisida Hayati untuk Mengendalikan Hama Kutu daun

(sumber gambar: saungsumberjambe.blogspot.com)


Salah satu bahan alami yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pestisida alami adalah daun sirsak yang dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan pestisida hayati untuk mengendalikan hama kutu daun dan juga thrips. Pestisida hayati ini dibuat dari bahan utama daun sirsak.

Bahan-bahan :

1.Daun sirsak: 100 lembar
2.Sabun colek: 2-3 sendok makan
3.Air: 1,5 liter

Cara pembuatan:

1.Rebus daun sirsak dengan 1,5 liter air, hingga air yang tersisa sebanyak 1 liter.
2.Setelah itu tambahkan sabun colek kedalam larutan yang dihasilkan.
3.Untuk pemakaiannya, .

Cara penggunaan:

Campurkan 1 liter larutan pestisida dengan 14 liter air, lalu semprotkan pada tanaman. Waktu penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum jam 10.00 atau sore hari dari jam 15.00 hingga maghrib. Penyemprotan dapat dilakukan 2 kali dalam seminggu. Yang perlu diingat pada penggunaan ekstrak sirsak ini adalah bahwa pemakaian harus dilakukan beberapa kali, jangan hanya satu kali. Sebab pemakaian secara rutin akan dapat senantiasa melindungi dan mencegah tanamam dari hama kutu daun dan thrips. Ekstrak daun sirsak dapat disimpan hingga 12 bulan sejak dari pembuatan. Namun demikian sebaiknya segera digunakan agar dapat memberikan manfaat secara maksimal.


Sumber :
INFOTEKTAN BPTP KALIMANTAN SELATAN Nomor: 02/ZHH-FN/TP & Horti/2012. Disarikan dari: Koswara Wijaya, Ir. Pestisida Nabati. //petaniwahid.blogspot.com/2008/08/ramuan-pestisida- nabati.html dan C:\Nanik\LIPTAN-PESTISIDA.doc.200
http://kalsel.litbang.deptan.go.id/

Ulat Grayak dan Cara Pengendaliannya

(sumbergambar: alvegasgreen.blogspot.com)

Ulat grayak dikenal dengan nama latin Leucania spp dan Spodoptera spp.
Ulat "Grayak" sangat ditakuti oleh petani karena setiap musim panen hama ini selalu ada. Ulat "grayak" ini menyerang tanaman padi pada semua stadia. Serangan terjadi pada malam hari dan siang harinya, larva ulat "grayak" bersembunyi pada pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi.
Seranga ulat ini memakan helai-helai daun dimulai dari ujung daun dan tulang daun utama ditinggalkan sehingga tinggal tanaman padi tanpa helai daun.
Pada tanaman yang telah membentuk malai, ulat "grayak" kadang-kadang memotong tangkai malai, bahkan ulat "grayak" ini juga menyerang padi yang sudah mulai menguning . Batang padi yang mulai menguning itu membusuk dan mati yang akhirnya menyebabkan kegagalan panen.
Serangga dewasa dari jenis Leucania Separata memiliki ukuran panjang bentangan sayap depan antara 45 - 50 mm dengan warna bervariasi antara merah bata sampai coklat. Serangga ini berumur 3 - 7 hari dan untuk seekor serangga betina ini dapat bertelur sebanyak 80 - 230 butir.
Serangga dewasa jenis Spodoptera litura, memiliki ukuran panjang badan 20 - 25 mm, berumur 5 - 10 hari dan untuk seekor serangga betina jenis ini dapat bertelur 1.500 butir dalam kelompok-kelompok 300 butir. Serangga ini sangat aktif pada malam hari, sementara pada siang hari serangga dewasa ini diam ditempat yang gelap dan bersembunyi.
Serangga ini memiliki telur dengan bentuk bulat. Telur dari serangga Leucania separata susunannya diletakkan dalam 2 barisan dalam gulungan daun atau pada pangkal daun permukaan sebelah bawah, dengan ukuran 0,5 x 0,45 mm, berwarna putih abu-abu dan berubah menjadi kuning sebelum menetas. Sedangkan serangga Spodoptera F susunan telurnya diletakkan dalam kelompok tiap kelompok tersusun oleh 2 - 3 lapisan telur, dan kelompok telur tertutup oleh bulu-bulu pendek berwarna coklat kekuningan dengan umur telur 3 - 4 hari.

Larva Leucania separata memiliki jumlah instar 6 dengan ukuran instar 1 panjang 1,8 mm dan instar 6 panjang 30 - 35 mm berwarna hijau sampai merah jambu dan berumur 14 - 22 hari. Pada bagian punggungnya terdapat 4 garis berwarna hitam yang membujur sepanjang badan.
Larva Spodoptera litura memiliki jumlah instar 5 dengan ukuran instar 1 panjang 1,0 mm dan instar 5 panjang 40 - 50 mm berwarna coklat sampai coklat kehitaman dengan bercak-bercak kuning dan berumur 20 - 26 hari. Sepanjang badan pada kedua sisinya masing-masing terdapat 2 garis coklat muda.
Serangga ulat "Grayak" perlu diwaspadai karena pada siang hari tidak tampak dan biasanya bersembunyi di tempat yang gelap dan didalam tanah, namun pada malam hari melakukan serangan yang hebat dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen, mungkin itulah sebabnya maka serangga ini disebut sebagai ulat grayak.
Pada lahan sawah yang kering sering sekali terserang oleh hama ulat grayak, oleh karena itu untuk pengendalian ulat grayak ini kondisi tanah sawah hendaknya diari dan perlu pengamatan lebih awal agar tidak terjadi serangan yang hebat.
Pengamatan awal dapat dilakukan dengan cara apabila ada kupu-kupu atau ngengat serta terlihat adanya telur serangga dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu menangkap kupu-kupu dengan menggunakan jaring serta membunuh telur-telur serangga yang dijumpai.
Meskipun umur larva atau ulat grayak ini berkisar 20 - 26 hari, namun perlu diwaspadai karena larva atau ulat ini dapat menyerang hampir semua tanaman termasuk padi pada semua stadium pertumbuhan.
Setelah 20 - 26 hari ulat ini hidup dan menyerang tanaman, maka ia akan berubah menjadi kepompong dan selanjutnya berubah jadi kupu-kupu. Kupu-kupu bertelur dan setelah 4 - 5 hari akan menetas menjadi ulat atau larva yang akan menyerang tanaman.

Pengendalian
Ulat grayak dapat dikendalikan dengan cara:
1) pengendalian secara biologi antara lain dengan memanfaatkan predator laba-laba antara lain Oxyopes sp, Lycosa sp dan parasitoid Eurytoma poloni, penggunaan jamur patogen serta menggunakan serangga lain Beauveria bassiana;
2) pembrantasan dengan menggunakan pestisida hanya dilakukan bila populasi ulat grayak mencapai ambang pengendalian dengan azas 6 tepat (jenis, dosis, konsentrasi, cara, waktu dan sasaran);
3) pembersihan/sanitasi lingkungan disekitar lahan pesemaian/ pertanaman;
4) penggenangan pesemaian/pertanaman;
5) pengendalian dengan insektisida efektif yang terdaftar dan diijinkan pada saat larva ulat grayak masih kecil dan bila telah ditemukan rata-rata ≥ 2 ekor per rumpun; dan
6) penggenangan dilakukan agar ulat naik ke batang dan dilakukan penyemprotan pada malam hari, dengan cara ini hasilnya lebih efektif.

Penerapan Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu/PTT (Integrated Crop Management/ICM)
Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), merupakan upaya penyempurnaan teknologi yang sudah ada sebelumnya yaitu teknologi Pengelolaan Hama Terpadu/PHT (Integrated Pest Management/IPM). Titik berat dari PHT adalah pengelolaan hama, penggunaan benih sehat, varietas unggul, teknik budidaya optimal dan tindalkan lainnya agar hama dapat terkendali dengan baik. Selanjutnya dalam teknologi PTT, telah dilakukan penyempurnaan yang meliputi:
1) pemilihan komoditas adaptif sebagai komponnen pola pergiliran tanaman;
2) pemilihan varietas unggul adaptif;
3) pergiliran tanaman yang dapat menambah kesuburan tanah;
4) pengelolaan tanah, hara tanaman, air dan tanaman secara optimal;
5) pengenadlian hama penyakit sesuai prinsip PHT; dan
6) penanganan pasca panen secara optimal untuk memperoleh produk bermutu tinggi dan keuntungan yang wajar.
Peneraan teknologi PTT di beberapa daerah dengan menggunakan inovasi teknologi penggunaan benih unggul bermutu, bibit muda, pemupukan berdasarkan status hara tanah dan kebutuhan tanaman akan unsur hara serta sistim penanaman dengan teknologi tabela legowo 2:1 dan tapin legowo 2:1 ternyata menekan serangan hama penyakit dan mampu meningkatkan produksi hingga 15-30% serta mampu menghemat tenaga kerja hingga 30%. Rendahnya serangan hama ini antara lain karena pengaruh sistim legowo 2:1 yang menghasilkan ruangan lebih lebar dan memanjang diantara dua baris tanaman yang berjarak rapat [(25cm x 12,5cm) x 50cm] yang membuat iklim mikro menjadi tidak sesuai bagi perkembangan hama.


Sumber :
Petunjuk bergambar Hama dan Penyakit tanaman padi. Deptan
http://cybex.deptan.go.id

Hama Penggerek Batang Padi dan Cara Pengendaliannya

(sumber gambar: magroniaga.blogspot.com)

Penggerek batang padi termasuk salah satu hama paling penting pada tanaman padi yang sering menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil yang tinggi. Keberadaan hama ini ditandai oleh kehadiran ngengat (kupu-kupu), kematian tunas-tunas padi (sundep/dead heart), kematian malai (beluk/white head), dan ulat (larva) penggerek batang
Penggerek batang padi terdapat  sepanjang tahun dan menyebar di seluruh Indonesia pada ekosistem padi yang beragam.  Intensitas serangan penggerek batang padi pernah mencapai 20,5% dan luas daerah yang terserang mencapai 151.577 ha. Kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang padi pada stadia vegetatif tidak terlalu besar karena tanaman masih dapat mengkompensasi dengan membentuk anakan baru. Berdasarkan simulasi pada stadia vegetatif, tanaman masih sanggup mengkompensasi akibat kerusakan oleh penggerek sampai 30%.  Gejala serangan pada stadia generatif menyebabkan malai muncul putih dan hampa yang disebut beluk.  Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar 1-3% atau rata-rata 1,2%. Kerugian yang besar terjadi bila penerbangan ngengat bersamaan dengan stadia tanaman bunting.

Di Indonesia telah dikenal 6 jenis penggerek batang padi, yang terdiri dari 5 jenis famili Pyralidae dan 1 jenis famili Noctuidae. Ke-6 jenis penggerek batang padi tersebut adalah:
(1) Penggerek batang padi kuning, Scirpophaga incertulas (Walker) (Lepidoptera: Pyralidae),
(2) Penggerek batang padi merah jambu, Sesamia inferens (Walkers) (Lepidoptera: (Noctuidae),
(3) Penggerek batang padi kepala hitam, Chilo polychrysus Meyrick (Lepidoptera: Pyralidae),
(4) Penggerek batang padi bergaris, Chilo suppressalis (Walker) (Lepidoptera: (Pyralidae),
(5) Penggerek batang padi putih, Scirpophaga innotata (Walker) (Lepidoptera: Pyralidae), dan
(6) Penggerek batang padi berkilat, Chilo auricilius Dudgeon (Lepidoptera: Pyralidae)

Ke enam jenis penggerek batang padi di atas memiliki sifat atau ciri yang berbeda-beda dalam penyebaran dan bioekologinya, namun hampir sama dalam cara menyerang atau menggerek tanaman serta kerusakan yang ditimbulkannya. Dari berbagai jenis penggerek batang padi tersebut kami mencoba mengulas bangaimana penanggulangan hama penggerek batang padi kuning. Tahapan perkembangbiakan penggerek batang padi kuning mulai dari telur, larva, pupa, hingga menjadi ngengat:

1. Telur; Jumlah telur  penggerek batang padi kuning dapat mencapai 50-150 butir/kelompok, ditutupi rambut halus berwarna coklat  kekuningan, diletakkan malam hari (pukul 19.00-22.00) selama 3-5 malam sejak malam pertama, keperidian 100-600 butir tiap betina dan stadium telur selama 6-7 hari.
2. Larva; Umumnya warna larvanya adalah putih kekuningan sampai kehijauan dengan panjang maksimun 25 mm. Stadium larvanya selama 28-35 hari yang terdiri atas 5-7 instar.
3. Pupa; Pupa penggerek batang padi kuning umumnya berwarna kekuning-kuningan atau agak putih, kokon berupa selaput benang berwarna putih, dengan panjang 12-15 mm, serta lama stadium pupanya mencapai 6-23 hari
4. Imago/Ngengat; Setelah melewati stadium pupa, jenis hama ini berubah menjadi ngengat jantan/betina. Ngengat jantan mempunyai bintik-bintik gelap pada sayap depan, ngengat betina berwarna kuning dengan bintik hitam di bagian tengah sayap depan. Panjnag ngengat jantan mencapai 14 mm dan betina 17 mm. Biasanya ngengat aktif bergerak pada malam hari dan tertarik cahaya, jangkauan terbang dapat mencapai 6-10 km. Lama hidup ngengat dapat mencapai 5-10 hari dengan siklus hidup 39-58 hari.

Larva keluar melalui 2-3 lubang yang dibuat pada bagian bawah telur menembus permukaan daun.  Larva yang baru muncul (instar 1) biasanya menuju bagian ujung daun dan menggantung dengan benang halus atau membuat tabung kecil, terayun oleh angin dan jatuh kebagian tanaman lain atau permukaan air.  Larva kemudian bergerak ke tanaman melalui celah antara pelepah dan batang.

Selama hidupnya larva dapat berpindah dari satu tunas ke tunas lainnya dengan cara membuat gulungan ujung daun, menjatuhkan diri ke permukaan air dan memencar ke rumpun yang lain. Perubahan kepadatan populasi penggerek batang padi kuning di lapangan sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), varietas padi yang ditanam, dan musuh alami yaitu parasitoid, predator, dan patogen.

Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan penggerek batang. Oleh karena itu, gejala serangan hama ini perlu diwaspadai, terutama pada pertanaman musim hujan. Waktu tanam yang tepat, merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang. Hindari penanaman pada bulan-bulan Desember-Januari, karena suhu, kelembaban, dan curah hujan pada saat itu sangat cocok bagi perkembangan penggerek batang, sementara tanaman padi yang baru ditanam, sangat sensitif terhadap hama ini. Tindakan pengendalian harus segera dilakukan, kalau lebih dari 10% umpun padi memperlihatkan gejala sundep atau beluk.

Insektisida yang efektif terhadap penggerek batang tersedia di kios-kios sarana pertanian, terutama yang berbahan aktif: karbofuran, bensultap, karbosulfan, dimenhipo, amitraz, dan fipronil. Sebelum menggunakan suatu produk pestisida, baca dan pahami informasi yang tertera pada label. Kecuali untuk kupu-kupu yang banyak beterbangan, jangan memakai pestisida semprot untuk sundep dan beluk.


Sumber :
Mahyuddin Syam, dkk. 2008. Masalah Lapang; Hama, Penyakit dan Hara, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta
www.balitbang.go.id

Hama Walang Sangit dan Cara Pengendaliannya


(sumber gambar: apps.cs.ipb.ac.id)

Walang sangit merupakan hama yang umum ada pada setiap musim tanam padi. Hama ini dapat merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusak Walang sangit adalah dengan menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu, serangga Walang sangit ini akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau kurang sedap. Selain sebagai mekanisme pertahanan diri, bau yang dikeluarkan juga digunakan untuk menarik walang sangit lain dari spesies yang sama. Walang sangit dapat merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu.

Sampai sekarang belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama walang sangit. Berdasarkan cara hidup walang sangit, tanam serempak dalam satu hamparan merupakan cara pengendalian yang sangat dianjurkan. Setelah ada tanaman padi berbunga, walang sangit akan segera pindah dari rumput-rumputan atau tanaman sekitar sawah ke pertanaman padi yang pertama kali berbunga. Sehingga jika pertanaman tidak serempak pertanaman yang berbunga paling awal akan diserang lebih dahulu dan tempat berkembang biak . Pertanaman yang paling lambat tanam akan mendapatkan serangan yang relatif lebih berat karena walang sangit sudah berkembang biak pada pertanaman yang berbunga lebih dahulu. Dianjurkan beda tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 2,5 bulan.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama serangga Walang sangit adalah menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta gabah menjadi hampa.

Hama ini dapat dikendalikan melalui beberapa langkah, seperti:
-  mengendalikan gulma, baik yang ada di sawah maupun yang ada di sekitar pertanaman;
-  meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam;
-  menangkap walang sangit dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan;
-  mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, claging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam;
-  menggunakan insektisida bila diperlukan dan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.

Salah satu akibat serangan hama serangga Walang sangit ini, beras akan mengalami perubahan warna dan mengapur. Dengan demikian pencegahan yang dapat dilakukan setelah tanaman padi terserang hama walang sangit adalah dapat menggunakan beberapa jenis insektisida (bila diperlukan) antara lain, yang berbahan aktif seperti :
-  BPMC dengan nama dagang Bassa, Kiltop, dan Baycard
-  Fipronil dengan nama dagang Regent
-  Metolkarb dengan nama dagang Rexal
-  MIPC dengan nama dagang Mipcin, Mikarb, Dharmacin atau
-  Propoksur dengan nama dagang Poksindo.
-  Siflutrin dengan nama dagang Sniper 50 EC

Sumber :
1. Mahyuddin Syam, dkk. 2008. Masalah Lapang; Hama, Penyakit dan Hara, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta
2. Anon,2006. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta

Fungisida Nabati Untuk Penyakit Blas

 
 (sumber gambar: www.taniorganik.com)

Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi.  Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana  dari bahan-bahan sederhana. Berikut ini adalah beberapa cara membuat Fungisida Nabati:

Cara Pembuatan
Cara I

Bahan-bahan yang diperlukan (masing-masing 1-2 kg) :

1.bawang putih
2.kunir  putih
3.temu lawak
4.temu ireng
5.kencur
6.umbi gadung

Cara pembuatan:

Cuci dan haluskan semua bahan, campur dan aduk hingga rata, campuran tersebut direndam dalam air bersih ± 5 liter air dalam wadah tertutup dan biarkan 3-4 hari hingga terjadi proses fermentasi setelah itu larutan diperas dan disaring dan siap digunakan.

Cara Penggunaan:

Larutkan biang fungisida nabati kedalam dalam air bersih dengan perbandingan 1 bagian : 4/5 bagian.  Cara aplikasi bisa dengan disemprotkan ke tanaman yang terserang penyakit/belum (untuk pencegahan) dan atau dikocorkan langsung ke pangkal tanaman.  Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). 

Cara II

Bahan

1.Lenkuas/ laos 1 kg
2.Kunyit/kunir 1 kg
3.Jahe 1 kg

Cara Pembuatan:
1.  Ketiga bahan dihaluskan dengan cara ditumbuk atau diparut
2.  Ambil sarinya dengan cara diperas

Cara Penggunaan:

Ambil larutan yang diperas tadi sebanyak 2 sendok makan dan dicampur dengan air 10 - 15 liter. kemudian semprotkan ke tanaman yang mau diobat/dicegah

Cara III

Bahan :

1.Jahe 1 kg
2.Lengkuas 1 kg
3.Kunyit 1 kg
4.Labu siam 1kg

Caran Pembuatan :
Keempat bahan tersebut diparut lalu diperas, disaring dan diambil airnya. Masukkan air saringan tersebut ke dalam botol atau tempat air lainnya untuk persedian sewaktu-waktu.

Cara Penggunaan:
Untuk pemakaian campurlah setiap satu liter air dengan 20 cc larutan fungisida tersebut.  Jika diperlukan untuk bahan perekat lain dan sekaligus sebagai protein bagi tanaman maka tambahkan 2 butir telur ayam untuk campuran fungisida alami.

Cara IV

Bahan

1.Daun Sirih 300 Gram (± 30 lembar daun)
2.Daun Jambu biji (± 30 lembar daun)
3.Lengkuas 300 Gram

Alat

1.Blender

Cara Pembuatan:

Bahan-bahan dihancurkan dengan blender dengan sedikit air. Kemudian diperas diambil airnya.

Cara Penggunaan:

Ambil air larutan sebanyak 3-5 sendok makan, lalu dicampur 10-15 liter air kemudian semprotkan ke tanaman yang mau diobat/dicegah.

Cara V

Bahan :

1.Air Kelapa 7 liter
2.Susu segar 1 liter/ susu kaleng 1 buah
3.Kuning telur 7 butir
4.Madu 1 sendok makan
5.Gula 1 sendok makan
6.CIU (arak lokal) 1 liter bisa diganti dengan alkohol

Bahan-bahan tersebut dicampur dan dapat diaplikasikan dengan dosis 250 ml dicampur dengan air 10-14 liter (1 tangki)

Sumber : http://epetani.deptan.go.id/budidaya/penyakit-blas-pyricularia-oryzae-cav-pada-tanaman-padi-pengendaliannya-5282?page=9

Rabu, April 30, 2014

CARA MUDAH UNTUK MENGETAHUI pH TANAH

Sebelum bercocok tanam agar tanaman kita menghasilkan produksi yang maksimal maka hal penting yang perlu kita ketahui adalah kecocokan tanaman yang akan kita budidayakan dengan kondisi tanah, salah satunya yaitu mengetahui keadaan pH tanah.
Unuk mengetahui pH tanah ada beberapa cara yang biasa digunakan yaitu dengan alat kertas lakmos dan pH meter, namun dikalangan petani tradisional hal itu sangat lah sulit untuk mendapatkan alat tersebut, namun kedua alat tersebut tergolong akurat untuk mengetahui keadaan pH tanah.
Berdasarkan kendala yang ada maka kami mencoba untuk berbagi bagaimana cara mudah untuk mengetahui keadaan pH tanah.

Langkah pertama siapkan 1 rimpang kunyit, kemudian kunyit tersebut dipatahkan atau dipotong menjadi dua, lalu benamkan kunyit tersebut kedalam tanah yang akan kita ukur pHnya, setelah 30-40 menit kunyit tadi kita ambil dan lihat hasilnya.
Lihat potongan kunyit yang berwarna kuning tadinya, apabila warna potongan kunyit tidak berubah (tetap seperti semula) maka keadaan pH tanah Netral, dan jika warna potongan kunyit berubah menjadi biru maka tanah tersebut Basa, namun bila warna potongan kunyit memudar maka tanah tersebut Asam.

PENYAKIT BLAS TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA


(sumber gambar: antonmhb.lecture.ub.ac.id)

Pada awalnya penyakit blas dikenal sebagai salah satu kendala utama pada padi gogo, tetapi sejak akhir 1980-an penyakit ini juga sudah terdapat pada tanaman padi sawah beririgasi.
Penyakit blas pada tanaman padi disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Jamur Pyricularia grisea dapat menyerang semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen.
Pada fase persemaian dan vegetatif umumnya menyerang daun sehingga disebut Blas daun. Blas daun merupakan bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih.
Pada fase tanaman tua (generatif) umumnya penyait ini menyerang leher malai, malai, bulir padi dan kolar daun, umumnya disebut Blas leher atau busuk leher. gejalanya bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah.
Penyakit blas tidak hanya menyerang tanaman padi tetapi dapat juga menyerang tanaman lain seperti gandum, surgum dan spesies rumput-rumputan. pada lingkungan yang kondusif blas dapat menyebabkan kematian.

TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit blas :
- Tanah
- Pengairan
- Kelembaban
- Suhu
- Pupuk
- Ketahanan Varietas
maka pengendalian penyakit blas yang dianjurkan adalah pengendalian secara terpadu dengan berbagai cara yang dapat menekan perkembangan penyakit.

A. Pengendaluan Penyakit Blas Dengan Teknik Budidaya

1. Penanaman Benih Sehat
Pengendalian penyakit blas lebih efektif apabila dilakukan sedini mungkin. Untuk mencegah penularan melalui benih maka perlu dilakukan pengobatan benih dengan fungisida sistemik seperti Trisiklazole dengan dosis formulasi 3-5gr/kg benih, pengobatan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih atau pelapisan benih.

2. Perendaman Benih
Benih direndam  dalam larutan fungisida  yang berbahan aktif Trisiklazole selama 24 jam dan selama perendaman larutan diaduk merata setiap 6 jam. Perbandingan berat biji dan volome air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida). Sesudah melakukan perendaman benih dikering anginkan diatas kertas koran hingga gabah siap disemai, pada padi sawah perendaman dilakukan sebelum pemeraman.

3. Cara Pelapisan
Cara ini lebih efektif dibandingkan dengan cara perendaman seingga lebih cocok untuk lahan kering (gogo). Benih direndam kedalam air murni (tanpa campuran) selama 2-3 jam lalu tiriskan hingga air tidak menetes lagi. kemudian fungisida dicampur/diaduk rata dengan benih.

4. Cara Tanam
Untuk memberikan kondisi linkungan yang kurang mendukung bagi perkembangan penyakit sangat dianjurkan  tanam dengan jarak tanam Legowo dan menggunakan sistem pengairan secara berselang. Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi pertanaman.

5. Pemupukan
Pemberian pupuk N dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan Pupuk K menyebabkan tanaman lebih tahan terhadap penyakit blas. Oleh karena itu agar perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produksi yang tinggi  disarankan menggunakan pupuk N dan K secara berimbang.

B. Penanaman Varietas Padi Yang Tahan Blas

Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit blas adalah penggunaan varietas tahan.
Beberapa varietas padi yang tahan terhadap blas adalah :
- Inpari 21
- Inpari 22
- Inpari 26
- Inpari 27
- Inpago 4 sampai inpago 8
Usaha lain yang perlu diperhatikan  yaitu tidak menanam padi secara monokultur (1 atau 2 varietas) secara luas dan terus menerus, apabila tanaman padi ditanam berturut-turut sepanjang tahun maka harus dilakukan pergiliran varietas atau rotasi gen.

C. Penggunaan Fungisida Nabati dan Kimia Melalui Penyemprotan Tanaman

1. Fungisida Nabati
Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi.  Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana  dari bahan-bahan sederhana.
Untuk cara pembuatan fungisida nabati dapat dilihat pada Halaman ini ←


2. Fungisida Kimia
Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna

Penyemprotan dilakukan dua kali yaitu pada masa anakan maksimum dan masa awal berbunga.

Beberapa fungisida sistemik yang biasa ada dipasaran :
- Isoprotiolane
- Trisiklazol
- Kasugamycin
- Thiopanatemethyl
- Difenoconazol
- mikocide 70
- Amistartop
- Score
- Pyoguilon
- Nelumbo 250 EC
- Prima Vit

Dosis:
Bahan Aktif Nama Dagang Dosis/Hektar
Isoprotiolane Fujiwan 400 EC 1lt
Trisiklazol Denis 75 WP 1lt/kg
BLAST 200 SC
Filia 525 SE
Kasugamycin Kasumiron 25 WP 1kg
Thiopanatemethyl Topsin 70 WP 1kg
Difenoconazol Score 250 EC 0,5lt


Pencegahan
1. Sanitasi lingkungan
2. Pemakaian jerami Sebagai Kompos
Jamur P. grisea dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi atau jerami, maka dari itu perlu dilakukan Pembenaman jerami dalam tanah sebagai kompos pada saat proses dekomposisi miselia dan spora jamur mati karena naiknya suhu.

Selasa, Januari 08, 2013

Wereng Coklat


Wereng coklat (WCk) menjadi salah satu hama utama tanaman padi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1970-an. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP>200, dsb). Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat. Tergantung pada tingkat kerusakan, serangan wereng coklat dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kuintal gabah sampai puso. Selain itu, WCk juga merupakan vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

Gejala Serangan Wereng Cokelat

Dengan menghisap cairan dari dalam jaringan pengangkutan tanaman padi, WCk dapat menimbulkan kerusakan ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh, sejak fase bibit, anakan, sampai fase masak susu (pengisian). Gejala WCk pada individu rumpun dapat terlihat dari daundaun yang menguning, kemudian tanaman mengering dengan cepat (seperti terbakar). Gejala ini dikenal dengan istilah hopperburn. Dalam suatu hamparan, gejala hopperburn terlihat sebagai bentuk lingkaran, yang menunjukkan pola penyebaran WCk yang dimulai dari satu titik, kemudian meyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan demikian, populasi WCk biasanya sudah sangat tinggi.

WCk dapat dikendalikan dengan varietas tahan. Penanaman padi dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pergiliran varietas, dan insektisida juga efektif untuk mengendalikan hama ini. Varietas tahan WCk, tergantung pada biotipe yang berkembang di suatu ekosistem . Daerah-daerah endemik WCk biotipe1, dapat menanam, antara lain, varietas Memberamo, Widas, dan Cimelati; untuk biotipe 2 dan 3, Memberamo, Cigeulis dan Ciapus.

Berbagai insektisida yang efektif antara lain yang berbahan aktif amitraz, bupofresin, beauveria bassiana 6.20x1010 cfu/ml, BPMC, fipronil, amidakloprid, karbofuran, karbosulfan, metolkarb, MIPCI, propoksur, atau tiametoksan.

Penggerek Batang


Penggerek batang termasuk hama paling penting pada tanaman padi yang sering menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil yang tinggi. Di lapang, keberadaan hama ini ditandai oleh kehadiran ngengat (kupu-kupu)

Hama ini dapat merusak tanaman pada semua fase tumbuh, baik pada saat di pembibitan, fase anakan, maupun fase berbunga. Bila serangan terjadi pada pembibitan sampai fase anakan, hama ini disebut sundep dan jika terjadi pada saat berbunga, disebut beluk.

Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan penggerek batang. Oleh karena itu gejala serangan hama ini perlu diwaspadai, terutama pada pertanaman musim hujan. Waktu tanam yang tepat, merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang. Hindari penanaman pada bulan-bulan Desember-Januari, karena suhu, kelembaban, dan curah hujan pada saat itu sangat cocok bagi perkembangan penggerek batang, sementara tanaman padi yang baru ditanam, sangat sensitif terhadap hama ini. Tindakan pengendalian harus segera dilakukan, kalau > 10% umpun memperlihatkan gejala sundep atau beluk.

Insektisida yang efektif terhadap penggerek batang tersedia di kios-kios sarana pertanian, terutama yang berbahan aktif: karbofuran, bensultap, karbosulfan, dimenhipo, amitraz, dan fipronil. Sebelum menggunakan suatu produk pestisida, baca dan pahami informasi yang tertera pada label. Kecuali untuk kupu-kupu yang banyak beterbangan, jangan memakai pestisida semprot untuk sundep dan beluk.

Rabu, Desember 19, 2012

Pengendalian Hama Keong Mas



PENDAHULUAN
Hama keong mas adalah salah satu hama yang mengakibatkan tingginya risiko gagal panen pada tanaman padi. Hama ini, sebagian orang menyebutnya dengan siput murbei, memakan batang dan daun padi berumur 15 hari. Serangan hama ini cukup membuat pusing para petani akibat populasinya di areal pertanaman sedemikian cepat perkembangbiakannya.
Tanaman padi yang terserang bisa habis dari pucuk daun hingga ke batang padi muda. Akibatnya tanaman menjadi merana bahkan mengalami gagal panen. Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7 – 4 hari. Disamping itu, satu ekor keong mas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60 – 80 hari), dan masing – masing kelompok telur berisi 300 – 500 butir. Seekor keong mas dewasa mampu menghasilkan 1000 – 1200 telur per bulan. Padi yang baru ditanam sampai 15 hari setelah tanam mudah dirusak keong mas, keong mas bahkan dapat mengkonsumsi seluruh tanaman muda dalam satu malam. Tanda spesifik lain pada pertanaman padi yang terserang hama ini adalah adanya rumpun yang hilang serta adanya potongan daun yang mengambang dipermukaan air.
 Keong Mas

Telur Keong Mas
Keong mas mampu bertahan selama kurang lebih 2 tahun di dalam tanah dan oleh karenanya hama ini relatif sulit untuk diatasi.

PENGENDALIAN KEONG MAS SECARA AMAN
Dalam mengendalikan hama keong mas, umumnya para petani memilih menggunakan moluskisida sintesis yang berharga mahal, berspektrum luas, dan mengganggu organisme nontarget dan juga manusia untuk mengendalikan hama keong mas. Dalam kaitannya dengan pengendalian keong mas, cara-cara yang lebih aman, seperti halnya secara fisik (penggunaan saringan), mekanis (pengambilan langsung) maupun secara biologis (pemberian tanaman yang tidak disukai di saluran-saluran, penggembalaan itik, penanaman bibit yang cukup kuat/tua, dll) lebih direkomendasikan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengendalikan keong mas.




  1. Pengambilan keong mas secara langsung dengan tangan dari sawah pada pagi dan sore hari ketika keong dalam keadaan aktif dan mudah diambil.
  2. Menggunakan tumbuhan yang mengandung racun bagi keong mas. Misalnya daun sembung (Blumea balsamifera), daun/akar tuba, daun eceng gondok (Monochoria vaginalis), daun tembakau (Nicotiana tabacum), daun calamansi atau jeruk (Citrus microcarpa), daun mabuhay (Tinospora rumphii), dan cabai merah. Selain itu, beberapa tanaman lain yang juga dapat digunakan untuk memberantas keong mas adalah starflower (Calotropis gigantis), nimba (Azadirachtha indica), dan asyang (Mikania cordata) yang mengandung bahan yang dapat membunuh keong mas. Berbagai tumbuhan tersebut dianjurkan diaplikasikan sebelum penanam padi. Saluran kecil dibuat agar keong mas berada di dalam saluran tersebut dan selanjutnya di atas saluran tersebut tempatkan tumbuhan yang disebutkan di atas.
  3. Menggunakan atraktan seperti daun talas (Cococasia esculenta), daun pisang (Musa paradisiaca), daun pepaya (Carica papaya), bunga terompet, dan koran bekas, supaya mudah mengumpulkan keong tersebut. Daun sebagai atraktan diletakkan dalam petakan sawah secara berjejer, berjarak 1-2 meter antar umpan, yang dilakukan sebelum panen sampai 5 minggu setelah tanam. Jumlah atraktan sebagai umpan yang diperlukan sekitar 40 kilogram per hektare. Tinggi air di sawah disarankan sekitar 5-10 centimeter (BP2TP NAD, 2004)
  4. Dibuatkan saluran kecil (sedikitnya lebar 25 centimeter, dan dalamnya 5 centimeter) sepanjang tepi sawah.Saluran berfungsi untuk penjebakan terhadap keong mas, di mana keong mas akan pindah ke dalam saluran tersebut, jika permukaan air berkurang dan dapat dilakukan pengumpulan.
  5. Meletakkan kawat kasa atau anyaman bambu pada pemasukan dan pengeluaran air utama, untuk mencegah masuknya keong mas kecil dan dewasa. Cara ini juga untuk mengambil keong mas yang terperangkap.
  6. Pagar plastik dapat digunakan untuk mencegah masuknya keong mas ke dalam areal persawahan.
  7. Menancapkan ajir bambu sebagai perangkap telur di sawah yang selalu tergenang atau pada saluran pengairan untuk menarik keong mas dewasa bertelur.
  8. Mempertahankan air agar tidak terlalu tinggi (2-3 centimeter) mulai 3 hari tanam
  9. Mengeringkan sawah berkali-kali untuk mengurangi aktivitas perpindahan dan perusakan.
  10. Mempergunakan varietas yang beranak banyak dan kurang disukai keong mas seperti PSB, Rc36, Rc38, Rc40, dan Rc 68.
  11. Penggunaan bahan kimia yang tidak merusak lingkungan dapat juga direkomendasikan. Asam anakardat yang diekstrak dari minyak kulit jambu mete, telah diuji-cobakan dan dapat membunuh keong mas (Rudyanto dan Mercellino, 2006). Teaseed meal merupakan obat yang umum di pasaran, selain itu, dapat juga digunakan saponin, tembakau, dan bibit pinang sebagai bahan pengendalin/pemberantasan keong mas.
  12. Beberapa predator keong mas adalah burung dan itik, kura-kura, ikan serta insekta. Penggembalaan itik di lahan persawahan, merupakan pengendalian yang efektif, dengan tanpa merusak padi yang telah ditanam. Sistem ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan ISG (itik sistem gembala). Penebaran jenis ikan tertentu yang dapat memakan keong mas (dan juga telurnya) akan memberikan keuntungan dalam pengendalian populasi keong tersebut. Jenis ikan-ikan yang mampu memakan keong mas ataupun juga telur keong mas tersebut antara lain Botia sp; Tetraodon sp; Bunocephalus sp., dan Leiocassis sp (sejenis lele-lelean); kelompok Cichlidae , kelompok gurami (gurami, sepat), beta, dan lain-lain. Sistem ini telah lama dikenal masyarakat Indonesia dengan nama mina-padi. Pada sistem ini, manajemen air untuk memberi kemungkinan dapat memakan telur juga mesti dilakukan, sehingga peluang menetas dan berkembang biak keong dapat diputuskan.