phone: +62 813 4833 4566
e-mail: bpk.haurgading@gmail.com

Rabu, April 30, 2014

PENYAKIT BLAS TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA


(sumber gambar: antonmhb.lecture.ub.ac.id)

Pada awalnya penyakit blas dikenal sebagai salah satu kendala utama pada padi gogo, tetapi sejak akhir 1980-an penyakit ini juga sudah terdapat pada tanaman padi sawah beririgasi.
Penyakit blas pada tanaman padi disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Jamur Pyricularia grisea dapat menyerang semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen.
Pada fase persemaian dan vegetatif umumnya menyerang daun sehingga disebut Blas daun. Blas daun merupakan bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih.
Pada fase tanaman tua (generatif) umumnya penyait ini menyerang leher malai, malai, bulir padi dan kolar daun, umumnya disebut Blas leher atau busuk leher. gejalanya bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah.
Penyakit blas tidak hanya menyerang tanaman padi tetapi dapat juga menyerang tanaman lain seperti gandum, surgum dan spesies rumput-rumputan. pada lingkungan yang kondusif blas dapat menyebabkan kematian.

TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit blas :
- Tanah
- Pengairan
- Kelembaban
- Suhu
- Pupuk
- Ketahanan Varietas
maka pengendalian penyakit blas yang dianjurkan adalah pengendalian secara terpadu dengan berbagai cara yang dapat menekan perkembangan penyakit.

A. Pengendaluan Penyakit Blas Dengan Teknik Budidaya

1. Penanaman Benih Sehat
Pengendalian penyakit blas lebih efektif apabila dilakukan sedini mungkin. Untuk mencegah penularan melalui benih maka perlu dilakukan pengobatan benih dengan fungisida sistemik seperti Trisiklazole dengan dosis formulasi 3-5gr/kg benih, pengobatan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih atau pelapisan benih.

2. Perendaman Benih
Benih direndam  dalam larutan fungisida  yang berbahan aktif Trisiklazole selama 24 jam dan selama perendaman larutan diaduk merata setiap 6 jam. Perbandingan berat biji dan volome air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida). Sesudah melakukan perendaman benih dikering anginkan diatas kertas koran hingga gabah siap disemai, pada padi sawah perendaman dilakukan sebelum pemeraman.

3. Cara Pelapisan
Cara ini lebih efektif dibandingkan dengan cara perendaman seingga lebih cocok untuk lahan kering (gogo). Benih direndam kedalam air murni (tanpa campuran) selama 2-3 jam lalu tiriskan hingga air tidak menetes lagi. kemudian fungisida dicampur/diaduk rata dengan benih.

4. Cara Tanam
Untuk memberikan kondisi linkungan yang kurang mendukung bagi perkembangan penyakit sangat dianjurkan  tanam dengan jarak tanam Legowo dan menggunakan sistem pengairan secara berselang. Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi pertanaman.

5. Pemupukan
Pemberian pupuk N dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan Pupuk K menyebabkan tanaman lebih tahan terhadap penyakit blas. Oleh karena itu agar perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produksi yang tinggi  disarankan menggunakan pupuk N dan K secara berimbang.

B. Penanaman Varietas Padi Yang Tahan Blas

Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit blas adalah penggunaan varietas tahan.
Beberapa varietas padi yang tahan terhadap blas adalah :
- Inpari 21
- Inpari 22
- Inpari 26
- Inpari 27
- Inpago 4 sampai inpago 8
Usaha lain yang perlu diperhatikan  yaitu tidak menanam padi secara monokultur (1 atau 2 varietas) secara luas dan terus menerus, apabila tanaman padi ditanam berturut-turut sepanjang tahun maka harus dilakukan pergiliran varietas atau rotasi gen.

C. Penggunaan Fungisida Nabati dan Kimia Melalui Penyemprotan Tanaman

1. Fungisida Nabati
Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi.  Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana  dari bahan-bahan sederhana.
Untuk cara pembuatan fungisida nabati dapat dilihat pada Halaman ini


2. Fungisida Kimia
Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna

Penyemprotan dilakukan dua kali yaitu pada masa anakan maksimum dan masa awal berbunga.

Beberapa fungisida sistemik yang biasa ada dipasaran :
- Isoprotiolane
- Trisiklazol
- Kasugamycin
- Thiopanatemethyl
- Difenoconazol
- mikocide 70
- Amistartop
- Score
- Pyoguilon
- Nelumbo 250 EC
- Prima Vit

Dosis:
Bahan Aktif Nama Dagang Dosis/Hektar
Isoprotiolane Fujiwan 400 EC 1lt
Trisiklazol Denis 75 WP 1lt/kg
BLAST 200 SC
Filia 525 SE
Kasugamycin Kasumiron 25 WP 1kg
Thiopanatemethyl Topsin 70 WP 1kg
Difenoconazol Score 250 EC 0,5lt


Pencegahan
1. Sanitasi lingkungan
2. Pemakaian jerami Sebagai Kompos
Jamur P. grisea dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi atau jerami, maka dari itu perlu dilakukan Pembenaman jerami dalam tanah sebagai kompos pada saat proses dekomposisi miselia dan spora jamur mati karena naiknya suhu.

Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif

Seperti yang dibahas sebelumnya, perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara-cara perbanyakan atau perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti  batang, cabang, ranting, pucuk,  daun, umbi  dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Perbanyakan tanaman secara vegetatif tersebut tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus.

Teknik-Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif

1. Stek
(sumber gambar cariilmu11.blogspot.com)

Stek atau cutting merupakan salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif yang dapat dilakukan menggunakan organ akar, batang, maupun daun tanaman. Tanaman yang distek, salah satu organ tanamannya dipotong dan bisa langsung ditanam pada media penanaman Teknik stek banyak dilakukan untuk memperbanyak tanaman hias dan buah, seperti anggur (Vitis vinivera), markisa (Passiflora edulis), sukun (Artocarpus communis), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), apel (Malus sylvestris), lada (Piper nigrum), dan vanili (Vanila planifolia).

2. Cangkok
(sumber gambar : bangmiing.blogspot.com)

Teknik cangkok (marcottage atau air layerage) banyak dilakukan untuk memperbanyak tanaman hias atau tanaman buah yang sulit diperbanyak dengan cara lain, seperti stek, biji, atau sambung. Tanaman yang biasa dicangkok umumnya memiliki kambium atau zat hijau daun, seperti mangga (Mangifera indica),  sukun (Artocarpus communis), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), alpukat (Persea americana), dan lain-lain. Tanaman lain yang tidak berkambium dan bisa diperbanyak dengan sistem cangkok adalah salak dan jenis-jenis bambu.

3. Penyusuan
(sumber gambar : buahtropis.wordpress.com)

Penyusuan (approach grafting) merupakan cara penyambungan di mana batang bawah dan batang atas masing-masing tanaman masih berhubungan dengan perakarannya. Keuntungannya tingkat keberhasilan tinggi, tetapi pengerjaannya agak merepotkan, karena batang bawah harus selalu didekatkan kepada cabang pohon induk yang kebanyakan berbatang tinggi. Kerugiannya penyusuan hanya dapat dilakukan dalam jumlah terbatas, tidak sebanyak sambungan atau menempel dan akibat dari penyusuan bisa merusak tajuk pohon induk. Oleh karena itu penyusuan hanya dianjurkan terutama untuk perbanyakan tanaman yang sulit dengan cara sambungan dan okulasi, misalnya alpukat (Persea americana), belimbing (Averrhoa carambola), durian (Durio zibethinus).

4. Okulasi
(sumber gambar : leira-fruit.blogspot.com)

Okulasi atau budding adalah teknik memperbanyak tanaman secara vegetatif dengan cara menggabungkan dua tanaman atau lebih. Penggabungan dilakukan dengan cara mengambil mata tunas dari cabang pohon induk, lalu dimasukkan atau ditempelkan di bagian batang bawah yang sebagian kulitnya telah dikelupas membentuk huruf T tegak, T terbalik, H, U tegak, atau U terbalik. Tempelan kedua tanaman tersebut diikat selama beberapa waktu sampai kedua bagian tanaman bergabung menjadi satu tanaman baru. Penyatuan kedua tanaman ini terjadi setelah tumbuh kalus dari kedua tanaman tersebut. Akibat pertumbuhan kalus ini akan terjadi perekatan atau penyambungan yang kuat. Contoh tanaman yang dapat diperbanyak dengan teknik okulasi yaitu : mangga (Mangifera indica), rambutan (Nephelium lappaceum), sirsak (Annona muricata), alpukat (Persea americana), dan jeruk (Citrus sp.).

5. Sambung
(sumber gambar : aosfarm.blogspot.com)

Teknik sambung merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif yang banyak dilakukan oleh para petani dan penangkar bibit buah-buahan. Teknik sambung dilakukan dengan menyambungkan atau menyisipkan batang atas ke batang bawah. Batang bawah yang digunakan bisa berasal dari biji, stek, bahkan tanaman yang sudah tua untuk diremajakan atau diganti dengan varietas baru. Contoh tanaman yang dapat diperbanyak dengan teknik okulasi yaitu : mangga (Mangifera indica), manggis (Garcinia mangostana), sirsak (Annona muricata), alpukat (Persea americana), dan jeruk (Citrus sp.).


Sumber : http://stf08.wordpress.com/teknik-perbanyakan-tanaman/
http://thlbanyumas.blogspot.com/2010/12/perbanyakan-tanaman.html
http://nopriastor.wordpress.com/2012/06/12/dasar-dasar-perbanyakan-tanaman-secara-vegetatif/

Kamis, April 24, 2014

Perbanyakan Tanaman



Perbanyakan tanaman dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu:
1. Perbanyakan tanaman dengan cara generatif (sexual) yaitu yang dikenal dengan perbanyakan menggunakan biji.
2. Perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif (asexual) yaitu dikenal dengan perbanyakan tanaman dengan menggunakan cara buatan ( tidak menggunakan biji ).

Berikut kita ulas satu persatu pengertian dari perbanyakan tanaman tersebut

1. Perbanyakan Tanaman Secara Generatif

Teknik ini adalah yang paling kita kenal dan yang paling sering kita pakai, yaitu perbanyakan dengan menggunakan biji. Cara ini memang sederhana dan murah, namun pada beberapa jenis tanaman tertentu bisa menjadi tidak efisien dan ekonomis, misalkan: pada tanaman Sanseviera lorenti trifaciata, bisa saja dengan menggunakan biji, namun hasil yang didapat tidak bisa semaksimal dengan menggunakan stek, dikarenakan perbanyakan dengan biji memiliki beberapa kelemahan.
Kelemahan perbanyakan tanaman secara Generatif:
a. Sifat induknya tidak dapat diturunkan secara sempurna kepada anaknya karena faktor keragaman genetik (pencampuran 2 jenis tanaman jantan-betina)
b. lebih lambat berbunga dan berbuah dibandingkan dengan perbanyakan secara Vegetatif.

Kelebihan perbanyakan tanaman secara Generatif:
a. Dapat dikerjakan dengan mudah
b. Biasanya lebih sehat dan hidup lebih lama
c. Memungkinkan diadakan perbaikan –perbaikan sifat tanaman lewat persilangan baru.
d. Benih lebih mudah disimpan dan dan dikirimkan.
e. Tanaman mempunyai perakaran tunggang yang dalamsehingga tahan kekeringan pada musim kemarau dan tahan rebah.

2. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif

Perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah suatu cara perbanyakan tanaman menggunakan bagian-bagian tanaman seperti : batang, pucuk,  daun, umbi  dan akar, untuk menghasilkan tanaman baru, yang sama dengan induknya. Arti penting perbanyakan tanaman secara vegetatif antara lain mempertahankan genotipe unggul, mengatasi masalah pada perkecambahan dan penyimpanan biji, memperpendek waktu berbunga dan berbuah, menggabungkan lebih dari satu genotipe dalam satu tanaman, mengendalikan fase perkembangan tanaman, dan mendapatkan keseragaman tanaman. Teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif yaitu stek, cangkok, penyusuan, okulasi, dan sambungan.
Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif meliputi aspek anatomi, fisiologi, dan genetik Aspek anatomi berkaitan dengan pengetahuan struktur internal dari akar, batang, dan daun. Aspek fisiologi berkaitan dengan peranan secara fisiologis berbagai hormon tanaman dalam mempengaruhi pertumbuhan hasil perbanyakan tanaman. Aspek genetik berkaitan dengan keseragaman dan keragaman genetik tanaman yang diperbanyak secara vegetatif.

Kelemahan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif:
a. Membutuhkan pohon induk yang lebih besar dan lebih banyak, sehingga membutuhkan biaya yang banyak.
b. Tanaman yang diperbanyak dengan stek dan cangkok, terutama tanaman buah atau tanaman keras akarnya bukan berupa akar tunggang sehingga tanaman tidak terlalu kuat atau mudah roboh.
c. Tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara vegetatif dan tingkat keberhasilannya sangat rendah.

Keunggulan perbanyakan tanaman secara vegetatif:
a. Menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya.
b. Lebih cepat berbunga dan berbuah.
c. Bisa ditanam didalam pot sehingga harga jualnya lebih tinggi

Pentingnya Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif
1). Upaya mempertahankan genotipe unggul
Jenis-jenis tanaman pohon tropis sebagian besar adalah menyerbuk silang, yang berarti jika melalui rekombinasi gen-gen selama reproduksi seksual, banyak karakteristik penting yang mungkin hilang. Jika individu tanaman unggul yang telah diidentifikasi oleh petani atau peneliti, informasi genetis tersebut dapat tetap dipertahankan melalui perbanyakan secara vegetatif, sehingga memungkinkan perbanyakan individu-individu unggul yang sama pada generasi berikutnya.

2). Upaya mengatasi adanya permasalahan pada perkecambahan dan penyimpanan biji
Beberapa spesies tanaman pohon ada yang menghasilkan buah tanpa biji (misalnya, beberapa kultivar jeruk) dan perlu untuk diperbanyak secara vegetatif, yang lainnya ada yang berbuah sangat jarang atau tak menentu. Banyak species tanaman pohon tropis yang memiliki benih/biji rekalsitran  sehingga memerlukan prosedur penanganan khusus dan sering tidak praktis. Dalam kasus-kasus ini, perbanyakan tanaman secara vegetatif memungkinkan menjadi alternatif yang cocok dan lebih murah untuk produksi bibit dengan tingkat keseragaman bibit yang dihasilkan tinggi dibandingkan perbanyakan tanaman secara generatif.

3). Upaya memperpendek waktu untuk berbunga dan berbuah
Arti penting lainnya dari perbanyakan vegetatif adalah upaya memperpendek siklus reproduksi siklus dari tanaman pohon. Hal ini sangat penting ketika produk yang diinginkan dari tanaman tersebut berupa bunga, buah atau biji-bijian. Perbanyakan tanaman secara vegetatif sebagian besar dilakukan dengan sambungan atau stek dari pohon dewasa, yang mempertahankan karakteristik lebih cepatnya waktu pendewasaan setelah okulasi atau pengakaran.

4). Upaya menggabungkan lebih dari satu genotipe dalam satu tanaman
Grafting adalah cara yang unik untuk menggabungkan sifat-sifat yang diinginkan dari dua atau lebih tanaman ke dalam satu individu. Sambungan grafting dengan sifat-sifat buah tertentu dapat dicangkokkan ke batang bawah dengan sifat-sifat lain yang diinginkan, seperti tahan nematoda. Kemungkinan lain adalah grafting lebih dari satu kultivar ke batang yang sama, misalnya, untuk memperpanjang periode sambungan dengan penyambungan varietas awal dan akhir pada satu pohon. Pengenalan cabang penyerbuk ke individu tanaman betina adalah memungkinan untuk spesies dengan bunga berumah dua (dioecious).

5). Upaya mengendalikan fase perkembangan
Sebuah tanaman mengalami beberapa tahapan usia yang bisa dibedakan oleh kekuatan pertumbuhan dan pembungannya. Tanaman juvenil yang vigor, memiliki dominasi apikal yang kuat dan mudah beregenerasi melalui perbanyakan secara vegetatif. Tanaman dewasa yang tidak vigor tidak mudah beregenerasi melalui perbanyakan secara vegetatif. Perbanyakan secara vegetatif melanggengkan tahap kedewasaan dari tanaman induk. Fiksasi dari fase perkembangan suatu tanaman dapat memiliki manfaat ekonomi seperti pada tanaman buah yang berbunga lebih awal setelah dilakukan grafting karena mata sambungan diambil dari tanaman dewasa atau pohon kayu yang akan mempertahankan kekuatan juvenilnya ketika berakar sebagai potongan dari bahan tanaman yang juvenil. Namun beberapa bentuk perbanyakan secara vegetatif, terutama stek akar, yang selalu menyebabkan tanaman juvenil, sebuah karakteristik yang mungkin tidak diinginkan dalam kasus-kasus tertentu.

6). Upaya mendapatkan keseragaman tanaman
Keseragaman bentuk pertumbuhan atau musim berbuah pada banyak tanaman yang dibudidayakan secara komersial memiliki nilai ekonomis yang penting. Keseragaman tersebut juga bias memiliki arti penting dalam ujicoba penanaman secara agroforestry.

Sumber : http://stf08.wordpress.com/teknik-perbanyakan-tanaman/
http://thlbanyumas.blogspot.com/2010/12/perbanyakan-tanaman.html
http://nopriastor.wordpress.com/2012/06/12/dasar-dasar-perbanyakan-tanaman-secara-vegetatif/

Rabu, April 23, 2014

JAMU/HERBAL LELE




Bahan :
1. Jahe
2. Kunyit
3. Temulawak
4. Kencur
5. Daun Pepaya
6. Gula Merah
7. Garam

Cara membuat :
1. Kupas jahe, kunyit, temulawak dan kencur
2. Hancurkan ke empat bahan tersebut (bisa di ulek atau di blender)
3. Rebus daun pepaya dan gula merah selama 10-15 menit
4. Matikan api, masukkan jahe, kunyit, kencur dan temulawak yg sudah di blender ke dalam air rebusan daun papaya dan gula merah, aduk hingga rata dan dinginkan
5. Sesudah dingin saring jamu/herbal agar terpisah ampas dan air jamu/herbal, masukkan dalam botol
6. Simpan di tempat yang aman dan biarkan selama 2-3 hari agar proses fermentasi terjadi

Setelah 2-3 hari jamu/herbal siap digunakan pada pakan ikan










Selasa, Februari 26, 2013

DINAMIKA KELOMPOK TANI



Sesuai dengan SK Menteri Pertanian No. 93/Kpts/OT. 210/3/97, Tanggal 18 Maret 1997, pengertian yang berkaitan tentang petani dan kelompoknya adalah sebagai berikut :

Petani, adalah Pengelola Usahatani dan atau usaha penangkapan ikan, yang meliputi petani, pekebun, peternak.

Kelompok Tani, adalah Kumpulan petani yang tumbuh berdasarkan keakraban dan keserasian, erta kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian untuk bekerja sama meningkatkanproduktivitas usahatani dan kesejahteraan anggotanya.

Kontak Tani, adalah Ketua kelompok tani yang dipilih dari anggota dan oleh anggota kelompok berdasarkan musyawarah.

Mantan ketua kelompok tani yang masih aktif sebagai anggota kelompok, dan kepemimpinannya masih diakui kelompok.

Kontak Tani Andalan (KTA), adalah Kontak tani yang dapat diandalkan dan dipilih secara periodik menurut kesepakatan dari dan oleh para kontak tani dalam satu desa, untuk mewakili aspirasi petani dalam forum dan atau kelembagaan ditingkat desa maupun tingkat wilayah yang lebih tinggi. Sehingga Kontak Tani Andalan Pertanian (KTA-Tan) merupakan KTA seperti diatas tetapi berasal dari Kontak tani pertanian.

Kelompok KTA, adalah Kumpulan para KTA pada tingkat wilayah Kecamatan/Kabupaten/Kodya/Propinsi dan Nasional sebagai wadah musyawarah para petani, serta mitra Pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan petani ditingkat wilayah yang bersangkutan.

Ahli Andalan, adalah Tokoh masyarakat yang mempunyai keahlian dalam bidang pertanian, yang dipilih oleh suatu kelompok KTA sebagai pendamping akhli kelompok KTA yang bersangkutan, sehingga Akhli Andalan pertanian dapat merupakan tokoh masyarakat atau pensiunan pegawai/aparatur (Negara, BUMN, BUMD, SWASTA yang mempunyai keakhlian dalam bidang pertanian, yang dipilih oleh para kontak tani sebagai pedamping ahli KTA-Tan.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), adalah Kumpulan dari beberapa kelompok tani yang mempunyai kepentingan yang sama dalam pengembangan komoditas usaha tani tertentu untuk menggalang kepentingan bersama, atau merupakan suatu wadah kerjasama antar kelompok tani dalam upaya pengembangan usaha yang lebih besar.

PENUMBUHAN KELOMPOK TANI

Dasar Penumbuhan

Penumbuhan kelompok tani didasarkan pada keakraban, keserasian dan kepentingan bersama, baik berdasarkan hamparan usahatani kebun, domisili atau jenis usahatani tergantung kesepakatan dari petani yang bersangkutan.

Anggota pengurus kelompok tani pertanian, baik yang merupakan kegiatan proyek maupun kegiatan pembangunan swadaya.

Merupakan pengorganisasian petani yang mengatur kerjasama dan pembagian tugas anggota maupun pengurus dalam kegiatan usahatani kelompok di hamparan kebun.

Besaran kelompok tani disesuaikan dengan jenis usahatani dan kondisi di lapangan, dengan jumlah anggota berkisar 20-30 orang.

Keanggotaan kelompok tani bersifat non formal.

Penumbuhan Kelompok Tani.

Upaya penumbuhan kelompok tani diarahkan pada tunbuhnya suatu kerjasama yang bersumber dari kesadaran petani dengan cara bergabung dalam kelompok untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kelompok tani berfungsi sebagai wadah belajar, unit produksi, wahana kerjasama dan sebagai wadah pembinaan petani. Penumbuhan kelompok tani dilaksanakan oleh dan untuk kepentingan petani sendiri.

Penumbuhan kelompok tani dapat berdasarkan hamparan usahatani, domosili petani atau jenis usahatani, tergantung kesepakatan para petani anggota kelompok.

Penumbuhan kelompok tani dalam pembangunan perkebunan dilaksanakan pada wilayah kegiatan proyek maupun diluar wilayah proyek, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Pada areal kebun yang kompak, penumbuhan kelompok berdasarkan hamparan.
  • Pada areal kebun yang hamparannya terpencar, penumbuhan kelompok berdasarkan domisili.
  • Pada areal intensifikasi tanaman semusim; seperti tebu, tembakau, dsb, pembinaan usahatani mendayagunakan kelompok tani yang ada. Demikian pula untuk tanaman perkebunan lainnya yang arealnya relatif kecil.
  • Komoditas lain diluar tanaman perkebunan yang ada di wilayah kegiatan proyek, maka pembinaan petani tetap menggunakan kelompok tani yang ada di wilayah proyek yang bersangkutan.
Proses Penumbuhan.

Pendataan lapangan dan motivasi petani
  • Pada tahap awal diperlukan pengumpulan data lapangan dan memberikan motivasi melalui penyelenggaraan penyuluhan kepada petani.
  • Pada pelaksanaan pendataan lapangan ini dilakukan pertemuan untuk memberikan informasi dan motivasi tentang, tujuan adanya kelompok tani, manfaat kalompok tani, proses musyawarah untuk menumbuhkan kelompok, cara kerja kelompok serta informasi lain dalam upaya memotivasi petani untuk menjadi kelompok tani.

Penumbuhan kelompok tani
  • Penumbuhan kelompok tani dilakukan dalam pertemuan/musyawarah petani yang dihadiri oleh para petani, tokoh masyarakat, pamong desa, petugas/penyuluh dan instansi terkait.
  • Pemilihan pengurus tiap kelompok tani dan anggotanya dilakukan secara musyawarah sehingga diperoleh kesepakatan kelompok dan dukungan masyarakat dan instansi terkait.Susunan kepengurusan kelompok tani minimal terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara serta dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kelompok.Tumbuhnya kelompok tani baru, dinyatakan dalam Berita Acara hasil musyawarah yang diketahui oleh Kepala Desa.
Tugas dan Tanggung Jawab Pengurus.

Pengurus Kelompok Tani.

  • Membina kerjasama dalam melaksanakan usahatani dan kesepakatan yang berlaku dalam kelompok tani.
  • Wajib mengikuti petunjuk dan bimbingan dari petugas/penyuluh untuk selanjutnya diteruskan pada anggota kelompok.
  • Bersama petugas/penyuluh membuat rencana kegiatan kelompok dalam bidang produksi, pengolahan, pemasaran dan lain-lain.
  • Mendorong dan menggerakkan aktivitas, kreativitas dan inisiatif anggota.
  • Secara berkala, minimal satu bulan sekali mengadakan pertemuan/musyawarah dengan para anggota kelompok yang dihadiri oleh petugas/penyuluh.
  • Mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang telah dilaksanakan kepada anggota, selanjutnya membuat rencana dan langkah perbaikan.

Anggota Kelompok Tani

  • Bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan usahatani ybs.
  • Wajib mengikuti dan melaksanakan petunjuk pengurus kelompok tani dan petugas/pnyuluh serta kesepakatan yang berlaku.
  • Wajib bekerja sama dan akrap antar sesama anggota, penggurus maupun dengan petugas/penyuluh.
  • Hadir pada pertemuan berkala dan aktif memberikan masukan, saran dan pendapat demi berhasilnya kegiatan usahatani kelompok.

PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI.
Dalam upaya pengembangan kelompok tani yang ingin dicapai adalah terwujudnya kelompok tani yang dinamis, dimana para petani mempunyai disiplin, tanggungjawab dan terampil dalam kejarsama mengegola kegiatan usahataninya, serta dalam upaya meningkatkan skala usaha dan peningkatan usaha kearah yang lebih besar dan bersifat komersial, kelompok tani dapat dikembangkan melalui kerjasama antar kelompok dengan membentuk gabungan kelompok tani (gapoktan) yang merupakan wadah kerja sama antar kelompok tani (WKAK).

Proses Penumbuhan Gapoktan antara lain sebagaai berikut:
  • Mengidentifikasi kelompok-kelompok tani yang mempunyai jenis usaha hampir sama pada wilayah tertentu (sentra/kawasan pertanian).
  • Setiap kelompok mengadakan koordinasi untuk bekerjasama antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
  • Melaksanakan pertemuan/musyawarah antar pengurus kelompok (yang mewakili kelompok) untuk membuat kesepakatan-kesepakatan usaha dengan skala yang lebih besar dalam upaya memperkuat posisi tawar (bergaining position).
  • Membuat aturan-aturan yang pengikat (sebaiknya secara tertulis) terhadap kesepakatan dari musyawarah antar kelompok tersebut serta sanksi-sanksinya apabila terjadi pelanggaran kesepakataan.
  • Menentukan pengurus dari Gapoktan tersebut untuk melaksanakan kegiatan usaha bersama sesuai dengan kebutuhan Gapoktan tersebut. Penentuan pengurus Gapoktan harus dapat mewakili kepentingan dari semua kelompok yang bergabung.
  • Membuat Berita Acara yang diketahui oleh Instansi Pemerintah terkait.
  • Adanya Rencana Usaha bersama (RUB).
Dengan bergabungnya kelompok tani tersebut dalam suatu wadah kelembagaan tani dalam bentuk Gapoktan, keberadaan petani akan lebih berdaya, yaitu sebagai berikut:
  • Jumlah anggota produksi yang dihasilkan dapat terkumpul lebih banyak, karena setiap anggota/kelompok menggumpulkannya untuk kepentingan bersama.
  • Kontinuitas hasil akan lebih mudah diatur, karena Gapoktan dapat memusyawarahkan rencana usaha kegiatannya bersama kelompok, sehingga jadwal tanam dan tata laksana kegiatannya dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan anggota dan kebutuhan pasar.
  • Petani menjadi subyek, karena Gapoktan diharapkan dapat bernegosiasi dengan pihak mitra usaha sesuai dengan kebutuhan anggotanya.
  • Petani mempunyai posisi yang lebih kuat dalam posisi tawar, karena dapat memilih alternatif yang menguntungkan serta dapat mangakses pasar yang lebih baik.
  • Dapat menjalin kerjasama usaha yang saling menguntungkan dengan koperasi, baik sebagai anggota maupun sebagai mitra usaha.

sumber http://www.deptan.go.id/pesantren/dispertanak_pandeglang/artikel_11.htm