phone: +62 813 4833 4566
e-mail: bpk.haurgading@gmail.com

Sabtu, Desember 22, 2012

Ciri Sapi yang Sehat


Dalam memilih ternak, sebaiknya memastikan kondisi kesehatan ternak yang akan dibeli sebelum melakukan transaksi. Berikut beberapa ciri hewan ternak yang sehat:
Nafsu makan. Ternak yang memiliki nafsu makan yang baik adalah salah satu ciri ternak yang sehat, karena gejala awal ternak yang sakit adalah penurunan nafsu makan. Dalam pengamatan nafsu makan juga diperhatikan gerak ruminasi, yaitu gerak memamah biak ternak sapi.

Gerak. Banyaknya gerak atau aktivitas ternak dapat menjadi salah satu indikator kesehatan ternak. Apabila ternak banyak bergerak dan tidak nglentruk, kondisi ternak dapat dianggap sehat, sedangkan ternak yang cenderung diam dan kurang agresif merupakan ciri ternak yang kurang sehat. Perilaku ternak sehat dapat dilihat dari aktivitas yang kuat, merespon jika dipegang, disentuh, ditarik. Keserasian bentuk tubuh akan mempengaruhi gerak, yang tampak dari posisi tubuh yang tegak, kuat dan semua bagian tubuh didukung dengan baik oleh kaki yang lurus, kuat serta simetris baik kaki depan dan kaki belakang.

Mata. Ternak sehat memiliki sorot matanya bersih dan cerah, kondisi bola mata baik, bersih dan tidak terdapat kelainan-kelainan mata, seperti berair, bercak kemerahan pada kornea mata, adanya selaput putih seperti katarak, ataupun adanya kotoran dan luka di sudut mata. Pada ternak sehat, pupil mata akan bereaksi jika ada pergerakan atau cahaya di depannya.

Rambut dan Kulit. Ternak yang sehat memiliki rambut yang tidak kusut, halus, bersih, tidak kusam, dan mengkilap. Kulit ternak elastis dan tidak ada luka fisik/cacat. Secara normal, rambut ternak memang rontok ketika ditarik, tetapi jumlahnya tidak banyak. Kerontokan bulu dalam jumlah banyak dapat menjadi ciri hewan yang kurang sehat, juga pada ternak yang mengalami penandukkan atau terbentuk kerak di kulit. Yang juga perlu diperhatikan adalah turgor yang baik pada kulit ternak, yaitu ketika disentuh atau ditarik kulit ternak sangat kenyal, dan posisi kulit akan kembali ke keadaan yang semula (normal) dalam waktu yang relatif singkat.
Membran Mukosa. Mukosa hidung dan mata tampat tidak berbau, halus, mengkilat dan tidak pucat. Cermin hidung sapi yang sehat selalu tampak basah.

Rabu, Desember 19, 2012

Budidaya Tomat di dalam Pot



I.       PENDAHULUAN

Buah tomat merupakan tanaman sayuran yang sangat di gemari dan mempunyai   gizi  yang sangat tinggi
Akhir-akhir ini masyarakat khususnya perkotaan  memanfaatkan  lahan  yang sempit atau pekarangan rumah menjadi lebih optimal. Yaitu dengan menanam tanaman  sayuran dalam pot yang ditata di pekarangan rumah

II.      PEDOMAN PENANAMAN SAYURAN TOMAT DALAM POT

1.    Seleksi Benih Tomat
Kriteria benih tomat yang bagus adalah:
a.    Tidak cacat/luka
b.    Sehat, tidak menunjukan adanya serangan hama/penyakit.
c.    Bersih dari kotoran
d.   Benih tidak keriput
2.      Penyemaian benih tomat.
Setelah proses penyeleksian terhadap benih tomat kemudian benih tomat didesinfektan dengan cara merendam benih tomat kedalam larutan fungisida, ini bertujuan agar mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit mati, setelah itu baru disemai di persemaian. Setelah benih tumbuh dan berumur  7 – 10 hari bibit dipindah ke dalam  kantong-kantong kecil kemudian dibiarkan selama 17-21 hari. Bibit siap dipindahkan kedalam pot.

3.      Persiapan Pot
Macam-macam pot yang dapat di gunakan  : Pot semen, pot kramik,  pot plastik,  atau pot tanah, polybag, kaleng – kaleng bekas. Pot-pot yang digunakan harus mempunyai  lubang bawah  sehingga air dapat keluar dengan mudah.

4.      Persiapan media tanam.
Media tanam yang digunakan  abu sekam bakar, pupuk kandang, tanah dengan berbandingan         2 : 1 : 1 . Semua media tanam di campur rata kemudian dimasukan kedalam pot.

5.      Penamaman
Setelah pot dan benih berumur 30 hari  maka dilakukan penanaman ke dalam pot/polybag.

6.      Pemeliharaan
Tanaman tomat yang sudah ditanam dalam pot diletakkan  ditempat yang teduh. Setelah tunas baru tumbuh maka pot dapat di pindahkan kepekarangan terbuka,  atau ditempat yang tidak kena cahaya matahari langsung. Penyiraman  dilakukan 2 x sehari pagi dan sore.   Untuk menjaga  tanaman tomat tumbuh tegak maka dipasang ajir/ tongkat.

7.      Pemupukan 
Karena tomat termasuk sayuran buah, setelah benih tumbuh menjadi bibit selain diberikan
pupuk N (Urea) tanaman  perlu diberikan pupuk P dan K untuk  merangsang  terjadinya  penbungaan dan buah

8.      Hama dan Penyakit
Hama
  • Ulat tanah, gejala yang timbul terpotongnya pangkal batang dan rebah. Pengendaliannya memberikan furadan 3 G pada  sekitar pangkal batang.
  • Ulat Grayak, gejalanya daun bercak-bercak putih dan berlubang pengendaliannya dengan musuh alami


Penyakit
Busuk Daun, gejalanya  daun bercak-bercak kondisi daun agak basah, lunak,  berwarna hijau kehitam-hitaman. Pengendalian dengan penyemprotan fungisida 

9.      Panen
Tanaman tomat dapat dipanen pada usia 60 -  100 hari setelah tanam

10.  Manfaat Buah Tomat
·      Membantu menurunkan resiko gangguan jantung.
·      Menghilangkan kelelahan dan menambah nafsu makan.
·      Menghambat pertumbuhan sel kanker pada prostat, leher rahim, payudara dan endometrium.
·      Memperlambat penurunan fungsi mata karena pengaruh usia (age-related macular degeneration).
·      Mengurangi resiko radang usus buntu.
·      Membantu menjaga kesehatan organ hati, ginjal, dan mencegah kesulitan buang air besar.
·      Menghilangkan jerawat.
·      Mengobati diare.
·      Meningkatkan jumlah sperma pada pria.
·      Memulihkan fungsi lever.
·      Mengatasi kegemukan.






Pengendalian Hama Keong Mas



PENDAHULUAN
Hama keong mas adalah salah satu hama yang mengakibatkan tingginya risiko gagal panen pada tanaman padi. Hama ini, sebagian orang menyebutnya dengan siput murbei, memakan batang dan daun padi berumur 15 hari. Serangan hama ini cukup membuat pusing para petani akibat populasinya di areal pertanaman sedemikian cepat perkembangbiakannya.
Tanaman padi yang terserang bisa habis dari pucuk daun hingga ke batang padi muda. Akibatnya tanaman menjadi merana bahkan mengalami gagal panen. Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7 – 4 hari. Disamping itu, satu ekor keong mas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60 – 80 hari), dan masing – masing kelompok telur berisi 300 – 500 butir. Seekor keong mas dewasa mampu menghasilkan 1000 – 1200 telur per bulan. Padi yang baru ditanam sampai 15 hari setelah tanam mudah dirusak keong mas, keong mas bahkan dapat mengkonsumsi seluruh tanaman muda dalam satu malam. Tanda spesifik lain pada pertanaman padi yang terserang hama ini adalah adanya rumpun yang hilang serta adanya potongan daun yang mengambang dipermukaan air.
 Keong Mas

Telur Keong Mas
Keong mas mampu bertahan selama kurang lebih 2 tahun di dalam tanah dan oleh karenanya hama ini relatif sulit untuk diatasi.

PENGENDALIAN KEONG MAS SECARA AMAN
Dalam mengendalikan hama keong mas, umumnya para petani memilih menggunakan moluskisida sintesis yang berharga mahal, berspektrum luas, dan mengganggu organisme nontarget dan juga manusia untuk mengendalikan hama keong mas. Dalam kaitannya dengan pengendalian keong mas, cara-cara yang lebih aman, seperti halnya secara fisik (penggunaan saringan), mekanis (pengambilan langsung) maupun secara biologis (pemberian tanaman yang tidak disukai di saluran-saluran, penggembalaan itik, penanaman bibit yang cukup kuat/tua, dll) lebih direkomendasikan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengendalikan keong mas.




  1. Pengambilan keong mas secara langsung dengan tangan dari sawah pada pagi dan sore hari ketika keong dalam keadaan aktif dan mudah diambil.
  2. Menggunakan tumbuhan yang mengandung racun bagi keong mas. Misalnya daun sembung (Blumea balsamifera), daun/akar tuba, daun eceng gondok (Monochoria vaginalis), daun tembakau (Nicotiana tabacum), daun calamansi atau jeruk (Citrus microcarpa), daun mabuhay (Tinospora rumphii), dan cabai merah. Selain itu, beberapa tanaman lain yang juga dapat digunakan untuk memberantas keong mas adalah starflower (Calotropis gigantis), nimba (Azadirachtha indica), dan asyang (Mikania cordata) yang mengandung bahan yang dapat membunuh keong mas. Berbagai tumbuhan tersebut dianjurkan diaplikasikan sebelum penanam padi. Saluran kecil dibuat agar keong mas berada di dalam saluran tersebut dan selanjutnya di atas saluran tersebut tempatkan tumbuhan yang disebutkan di atas.
  3. Menggunakan atraktan seperti daun talas (Cococasia esculenta), daun pisang (Musa paradisiaca), daun pepaya (Carica papaya), bunga terompet, dan koran bekas, supaya mudah mengumpulkan keong tersebut. Daun sebagai atraktan diletakkan dalam petakan sawah secara berjejer, berjarak 1-2 meter antar umpan, yang dilakukan sebelum panen sampai 5 minggu setelah tanam. Jumlah atraktan sebagai umpan yang diperlukan sekitar 40 kilogram per hektare. Tinggi air di sawah disarankan sekitar 5-10 centimeter (BP2TP NAD, 2004)
  4. Dibuatkan saluran kecil (sedikitnya lebar 25 centimeter, dan dalamnya 5 centimeter) sepanjang tepi sawah.Saluran berfungsi untuk penjebakan terhadap keong mas, di mana keong mas akan pindah ke dalam saluran tersebut, jika permukaan air berkurang dan dapat dilakukan pengumpulan.
  5. Meletakkan kawat kasa atau anyaman bambu pada pemasukan dan pengeluaran air utama, untuk mencegah masuknya keong mas kecil dan dewasa. Cara ini juga untuk mengambil keong mas yang terperangkap.
  6. Pagar plastik dapat digunakan untuk mencegah masuknya keong mas ke dalam areal persawahan.
  7. Menancapkan ajir bambu sebagai perangkap telur di sawah yang selalu tergenang atau pada saluran pengairan untuk menarik keong mas dewasa bertelur.
  8. Mempertahankan air agar tidak terlalu tinggi (2-3 centimeter) mulai 3 hari tanam
  9. Mengeringkan sawah berkali-kali untuk mengurangi aktivitas perpindahan dan perusakan.
  10. Mempergunakan varietas yang beranak banyak dan kurang disukai keong mas seperti PSB, Rc36, Rc38, Rc40, dan Rc 68.
  11. Penggunaan bahan kimia yang tidak merusak lingkungan dapat juga direkomendasikan. Asam anakardat yang diekstrak dari minyak kulit jambu mete, telah diuji-cobakan dan dapat membunuh keong mas (Rudyanto dan Mercellino, 2006). Teaseed meal merupakan obat yang umum di pasaran, selain itu, dapat juga digunakan saponin, tembakau, dan bibit pinang sebagai bahan pengendalin/pemberantasan keong mas.
  12. Beberapa predator keong mas adalah burung dan itik, kura-kura, ikan serta insekta. Penggembalaan itik di lahan persawahan, merupakan pengendalian yang efektif, dengan tanpa merusak padi yang telah ditanam. Sistem ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan ISG (itik sistem gembala). Penebaran jenis ikan tertentu yang dapat memakan keong mas (dan juga telurnya) akan memberikan keuntungan dalam pengendalian populasi keong tersebut. Jenis ikan-ikan yang mampu memakan keong mas ataupun juga telur keong mas tersebut antara lain Botia sp; Tetraodon sp; Bunocephalus sp., dan Leiocassis sp (sejenis lele-lelean); kelompok Cichlidae , kelompok gurami (gurami, sepat), beta, dan lain-lain. Sistem ini telah lama dikenal masyarakat Indonesia dengan nama mina-padi. Pada sistem ini, manajemen air untuk memberi kemungkinan dapat memakan telur juga mesti dilakukan, sehingga peluang menetas dan berkembang biak keong dapat diputuskan.

PENGEMBANGAN BENIH PADI UNGGUL BARU

Benih unggul baru menjadi hal yang sangat penting dalam berusahatani. Ketersediaan benih yang memenuhi kriteria enam tepat (varitas, waktu, tempat, mutu, jumlah dan harga) belum dapat dipenuhi melalui sistem perbenihan yang ada. 



BENIH PADI UNGGUL BARU
Cimelati: umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 110 cm, anakan produktif banyak, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kurang bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 19%, berat 1000 biji 27 gram, hasil 7 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2 dan 3, peka terhadap wereng coklat dibandingkan dengan IR 64, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan IV peka terhadap strain VIII, sesuai untuk sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian < 500 m di atas permukaan laut (dpl).

Cisantana: umur tanaman 118 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 110 cm, anakan produktif 15-20 batang, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan tahan, kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 23%, berat 1000 biji 23,9 gram, hasil 5-7,8 ton/ha gabah kering panen, cukup tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3, cukup tahan terhadap hawar daun bakteri (HDB) III dan peka terhadap HDB IV, sesuai untuk sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan baik ditanam pada lahan irigasi kurang subur.

Sintanur:  umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 120 cm, anakan produktif banyak, warna batang hijau,  posisi daun tegak sampai miring, daun bendera tegak, bentuk gabah medium atau sedang, warna gabah kurang bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 18%, berat 1000 biji 27,4 gram, hasil 6 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 2 peka terhadap wereng coklat biotipe 3, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, peka terhadap strain IV dan VIII, sesuai untuk sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian <500 m di atas permukaan laut (dpl).

Konawe: umur tanaman 110-120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 100-114 cm, anakan produktif 15-18 batang, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah panjang ramping, warna gabah kurang bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 23%, berat 1000 biji 27-28 gram, hasil 5-8 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan lebih tahan terhadap biotipe 3 dibandingkan dengan IR 64, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan lebih tahan terhadap strain IV dibandingkan dengan IR64, dianjurkan ditanam pada lahan sawah pada ketinggian < 550 m di atas permukaan laut (dpl).  

Angke: umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 90 cm, anakan produktif banyak, warna batang hijau,  posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kurang bersih, kerontokan tahan, kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, kadar amilosa 23%, berat 1000 biji 27 gram, hasil 6,8 ton/ha gabah kering panen, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2 dan SU, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, IV dan VIII dengan gen ketahanan resesif Xa5, baik ditanam di lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl).  

Widas: nomor pedigiri S969b-265-1-4-1, asal persilangan sentani/singkarak, golongan cere, umur tanaman 115-125 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 90-117 cm, anakan produktif 17-20 batang, warna kaki hijau, warna batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, warna daun hijau, muka daun agak kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan sedang, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 25-26 g, kadar amilosa 23%, hasil 5-7 t/ha, tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2 dan 3, tahan penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain III dan IV, cocok di tanam pada musim hujan dan musim kemarau di lokasi di bawah 600 m di atas permukaan laut (dpl).

Ketonggo: nomor pedigiri B8583E-Mr-87-1-1b, asal persilangan B4183E-Kp-1/IR-28224/B4183, golongan cere, umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 125 cm, anakan produktif 10-19 batang, warna kaki hijau, warna batang hijau, warna daun hijau, muka daun kasar, daun bendera tegak miring, bentuk gabah bulat besar, warna gabah kuning bersih, kerontokan tahan, kerebahan tahan, tekstur nasi ketan, bobot 1000 butir 29-30 g, kadar amilosa 0,8%, hasil 5-6 t/ha, tahan wereng coklat biotipe 2 dan cukup tahan terhadap biotipe 3, cukup tahan hawar daun bakteri strain III, baik ditanam di dataran rendah sampai dataran sedang.

Ciherang: nomor pedigiri S3383-Id-Pn-41-31, asal persilangan IR18349-53-1-3-1-3/IR19661-131-3-1-3///IR64////IR64, golongan cere, umur tanaman 116-125 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 107-115 cm, anakan produktif 14-17 batang, warna kaki hijau, warna batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, warna daun hijau, muka daun kasar pada sebelah bawah, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah panjang ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan sedang, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 27-28 g, kadar amilosa 23%, hasil 5-7 t/ha, tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3, tahan penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain III dan IV, cocok di tanam pada musim hujan dan musim kemarau dengan ketinggian di bawah 500 m di atas permukaan laut (dpl).

Tukad Patanu: nomor pedigiri IR69726-116-1-3, asal persilangan IR61009-37-2-1-1///IR1561-228-3-3/Utri Merah//, golongan cere, umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 118 cm, anakan produktif 17-20 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning jerami, kerontokan mudah rontok, kerebahan toleran, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 23,9 g, kadar amilosa 23,3%, hasil 4-7 t/ha, agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteri strain VIII, tahan terhadap penyakit, baik ditanam di daerah endemik penyakit tungro, khususnya daerah Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Tukad Balian: nomor pedigiri IR59682-132-1-1-1-2, asal persilangan IR486113-54-9-9-1/IR28239-94-2-3-6-2, golongan cere, umur tanaman 110 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 95 cm, anakan produktif 19 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning jerami, kerontokan mudah rontok, kerebahan toleran, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 24,3 g, kadar amilosa 21,2%, potensi hasil 4-7 t/ha, agak tahan wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteeri strain VIII, dan tahan terhadap tungro, baik ditanam di daerah endemik penyakit tungro, khususnya daerah Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Tukad Unda: nomor pedigiri IR68305-18-1, asal persilangan IR64/Balimun Putih, golongan cere, umur tanaman 110 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 104 cm, anakan produktif 20 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, warna daun hijau, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, bulu gabah pendek, warna gabah kuning jerami, kerontokan mudah rontok, kerebahan toleran, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 23,9 g, kadar amilosa 24,9%, potensi hasil 4-7 t/ha, agak tahan wereng coklat biotipe 3, agak tahan hawar daun bakteeri strain VIII, dan tahan terhadap tungro, baik ditanam di daerah endemik penyakit tungro, khususnya daerah Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Kalimas: nomor pedigiri B59552-21-3-2-2-(HD176), asal persilangan PSBRc2 dan IRRI39292-142-3-3-3 introduksi dari IRRI, golongan cere, umur tanaman 120-130 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 98-116 cm, anakan produktif 16-23 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang., kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, bobot 1000 butir 26,49 g, kadar amilosa sedang, hasil 8,97 t/ha (gabah kering panen), tahan terhadap wereng coklat, tahan terhadap tungro, sesuai untuk lahan endemik tungro dan wereng coklat.  

Singkil: nomor seleksi S3254-2g-21-2, asal persilangan IR35432-33-2/IR19661-131-3-1//Ciliwung///IR64, golongan care, umur tanaman 10-115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 95-115 cm, anakan produktif 17-20 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, muka daun kasar pada bagian sebelah bawah daun, posisi daun tegak, daun bendera tegak, bentuk gabah panjang ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan sedang, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, bobot 1000 butir 26,27 g, kadar amilosa 23%, hasil 4-8 t/ha gabah kering giling, tahan terhadap ereng coklat biotipe 2 dan lebih tahan biotipe 3, dibandingkan dengan IR64, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, dan lebih tanah terhadap strain IV, dibandingkan dengan IR64, ditanam pada lahan sawah pada ketinggian <550 m di atas permukaan laut (dpl).

Sintanur: nomor seleksi B9645e-Mr-89-1, asal persilangan lusi/B7136E-Mr-22-1-5 (Bengawan Solo), golongan cere, umur tanaman 120 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 120 cm, anakan produktif banyak, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga tidak berwarna, warna lidah daun tidak berwarna, muka daun kasar, warna daun hijau, posisi daun tegak sampai miring, daun bendera tegak, bentuk gabah meduium atau sedang, warna gabah kuning bersih, kerontokan sedang, kerebahan agak tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi enak, bobot 1000 butir 27,4 g, kadar amilosa 18%, hasil 6 t/ha (gabah kering panen), tahan terhadap wereng coklat biotipe 1 dan 2 peka terhadap wereng coklat biotipe 3, tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, dan lebih tanah terhadap strain IV, dibandingkan dengan IR64, sesuai untuk sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian < 500 m dpl.

Bondojudo: nomor seleksi IR60819-34-2-1 (HD 174), asal persilangan IR72 (IR48525-100-1-2) introduksi dari IRRI, golongan cere, umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 97,3-116 cm, anakan produktif 15-22 batang, warna kaki hijau, warna  batang hijau, warna daun telinga putih, warna lidah daun putih, muka daun kasar, posisi daun tegak, daun bendera tegak pendek (malai kelihatan), bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, kerontokan mudah, kerebahan tahan, tekstur nasi pulen, rasa nasi sedang, bobot 1000 butir 21,3 g, kadar amilosa sedang, hasil 8,40 t/ha (gabah kering panen), tahan terhadap wereng coklat, tahan terhadap tungro, sesuai untuk lahan endemik tungro wereng coklat. 

Penggunaan Benih Bermutu


Penggunaan Benih yang Baik, Bersih, dan Sehat


Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi jumlah pemakain benih dan tanam ulang serta memiliki daya kecambah dan tumbuh yang tinggi sehingga pertanaman kelihatan seragam. Pertumbuhan awal yang kekar dapat mengurangi masalah gulma dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama/penyakit. Kombinasi faktor ini dapat memberikan tambahan hasil panen antar 5-20%.

Ciri Benih Bermutu

Benih bermutu adalah benih murni dari suatu varietas, berukuran penuh dan seragam, daya kecambah di atas 80% dengan bibit yang tumbuh kekar, bebas dari biji gulma, penyakit, hama, atau bahan lain. Benih seyogianya diberi label secara tepat. Untuk memperoleh benih bermutu, belilah benih bersertifikat yang murni dan berlabel, atau benih bermutu yang diproduksi petani, atau pilih sendiri dari pertanaman Anda.



Pengeringan dan Penyimpanan Benih Bermutu

Setelah panen, bersihkan benih dan pilih yang berisi penuh dan seragam. Keringkan benih sampai kandungan airnya 12-14%, lalu simpan dalam karung atau kontainer secara kedap udara sampai musim tanam berikutnya (kualitas benih dapat bertahan setahun bila disimpan secara tepat). Benih yang disimpan tanpa kedap udara akan meningkat kadar airnya dan menurun daya tumbuhnya sejalan dengan waktu.

Menguji Mutu Benih


  1. Pilih secara acak contoh benih yang akan ditanam lalu rendam dalam air selama 24 jam.
  2. Letakkan 100 benih di atas kertas kacu lembab. Taruh kertas tadi dalam tempat tertutup. Upayakan kertas tetap lembab.
  3. Setelah 3-5 hari, hitung benih yang berkecambah dan catat persentase perkecambahan.
  4. Benih dinilai bermutu bila mempunyai daya kecambah minimal 80%.
Sepuluh Langkah untuk Memproduksi Benih
  1. Pilih lahan yang subur.
  2. Gunakan benih bermutu yang bersih dan bernas.
  3. Olah tanah secara baik untuk mengendalikan gulma dan memperbaiki pengelolaan air.
  4. Dalam cara tanam pindah, tanam bibit muda (15-20 hari) dari persemaian yang bebas gulma dengan jarak tanam 22,5 x 22,5 cm.
  5. Pakai pupuk N, P, K, S sesuai dengan kebutuhan tanaman.
  6. Jaga agar pertanaman bebas gulma, hama, dan penyakit.
  7. Pada saat anakan maksimum dan pembungaan, sisihkan tanaman yang off-type yang terlihat dari tinggi tanaman, waktu berbunga, dan keragaannya yang berbeda; sisihkan juga tanaman yang terserang hama/penyakit serta malai yang berubah warna.
  8. Lakukan panen pada saat tanaman matang penuh (80-85% gabah berwarna seperti jerami).
  9. Rontok, bersihkan, keringkan, dan beri label benih yang dipanen.
  10. Simpan benih yang diberi label dalam kontainer bersih yang tertutup dalam ruangan yang sejuk, kering, dan bersih.